Diskriminasi Gender, Diperkirakan Banyak Wanita Belum Vaksin Covid-19

  • Whatsapp
Vaksin Covid-19 - pendidikankedokteran.net
Vaksin Covid-19 - pendidikankedokteran.net

Jakarta – Diskriminasi gender tampaknya masih menjadi perbincangan hangat, khususnya di Asia, termasuk Indonesia. Hal ini dibuktikan dari banyaknya jumlah yang masih belum mendapatkan vaksin COVID-19 dosis 1 dan 2. Sementara untuk pria, hampir seluruhnya sudah mendapatkan dosis 2 vaksin coronavirus.

Dilaporkan dari South China Morning Post, lebih sedikit daripada pria di kawasan Asia-Pasifik yang menerima kedua dosis awal vaksinasi COVID-19. Berdasarkan UN Women dan Asian Development Bank, itu salah satu dari pandemi pada perempuan.

Bacaan Lainnya

Untuk menyelidiki tidak ratanya vaksinasi, sebuah penelitian dengan tajuk ‘ Gender yang Tersisa dari COVID-19 di Asia dan Pasifik,’ membuktikan memiliki kemungkinan kecil menerima dua dosis vaksin. Alasan utamanya adalah ketakutan akan efek samping dan informasi yang salah terkait risiko kehamilan dan menyusui setelah vaksin.

Tak hanya itu, di Indonesia, sebagian besar tidak mendapatkan vaksin karena belum mendapatkan panggilan untuk suntikan kedua. Sementara yang lain mencatat bahwa banyak wanita yang sibuk dan tidak bisa meninggalkan rumah untuk vaksin.

“Total sampel dalam penelitian dan survei adalah 17.845 orang,” kata Sarah Knibbs, petugas yang bertanggung jawab atas UN Women Asia dan Pasifik. “Jumlah itu terdiri dari 52% laki-laki dan 48% dari Indonesia, Kiribati, Pakistan, Papua Nugini, Samoa, Kepulauan Solomon, dan Tonga.”

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pandemi telah mendorong para perempuan harus lebih banyak meluangkan waktu mereka, baik untuk pekerjaan yang dibayar maupun tidak (sebagai rumah tangga). Di sisi lain, COVID-19 mendorong banyak perusahaan untuk mengurangi tenaga kerja dan rata-rata adalah wanita.

Tak heran jika akhirnya perempuan sangat disibukkan dengan tugas rumah dan mereka tidak bisa memperoleh informasi yang tepat mengenai vaksin. Pergeseran yang sangat dramatis ini umumnya terjadi di Pakistan dan Indonesia. Di Pakistan, ada sekitar 38% wanita bekerja dengan upah, sedangkan sisanya mendedikasikan waktunya untuk keluarga. Padahal, sebelum pandemi ada sekitar 62% wanita yang bekerja dengan upah. 

Sementara itu, di Indonesia, hampir 85% wanita bertanggung jawab untuk memasak di rumah tanpa upah. Diperkirakan jumlah perempuan yang bekerja di rumah tanpa upah naik sekitar 23% saat pandemi. Ini memicu keterbatasan akses informasi mengenai vaksin di beberapa daerah. Bahkan mengakses aplikasi vaksin seperti ‘Peduli Lindungi’ menjadi tantangan bagi beberapa orang. 

“Untuk membantu masalah ini, pemerintah akan bekerjasama dalam program ketahanan ekonomi yang mengintegrasikan desain dan target responsif gender,” kata Samantha Hung, kepala Gender Equality Thematic Group di Asian Development Bank. “Ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan dan perekonomian keluarga supaya lebih baik, sehingga perempuan dan anak bisa lebih bebas dalam mengakses informasi terkait vaksin.”

Tetapi meskipun beberapa solusi telah diperkenalkan sejak awal krisis, masih banyak lagi yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta.

“Ke depan, Asian Development Bank, bersama dengan mitra sektor publik dan swasta, harus memastikan bahwa data gender terintegrasi penuh ke dalam kebijakan pascapandemi, mulai dari desain hingga implementasi dan pemantauan,” kata Hung. “Itu untuk memastikan bahwa perempuan dan anak mendapatkan hak yang sama dengan pria, khususnya dalam hal seperti vaksin.”

Pos terkait