Jadi Nomine Lomba Urban Farming, Warga Pandanwangi Berkebun di Halaman Rumah

  • Whatsapp
Lomba Urban Farming - (YouTube: PasarKita)
Lomba Urban Farming - (YouTube: PasarKita)

KOTA MALANG – Keceriaan tampak ditunjukkan warga Kelurahan Pandanwangi, tepatnya di Kampung Limo RT 5 RW 10 yang berhasil masuk sebagai nominasi dalam penilaian Kampung Urban Farming di wilayah Kota Malang. Lomba Kampung Urban Farming itu digagas oleh Pemkot Malang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) yang dilakukan di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW.

Kampung Limo dinyatakan lolos 12 besar setelah tim juri dari Dispangtan Kota Malang mengadakan peninjauan tahap kedua terkait dengan implementasi Kampung Urban Farming. Lingkungan yang asri dengan beraneka toga dan sayuran menjadikan Kampung Limo memperoleh yang baik. “Di Kecamatan Blimbing, ada tiga wilayah yang mewakili, yaitu Balearjosari, Jodipan, dan Pandanwangi,” kata Ketua RW 10 Kampung Limo, Anang Tis.

Bacaan Lainnya

Selain melihat penerapan urban farming, tim juri juga meninjau berbagai produk olahan yang dihasilkan warga, mulai dari minuman herbal, makanan, hingga produk kosmetik. Pada penilaian sebelumnya, Kampung Limo tercatat memiliki 19 produk olahan dan saat ini menghasilkan lebih banyak produk olahan. Nantinya, Kampung Limo akan mengikuti proses penilaian tahap ketiga yang dijadwalkan pada September mendatang.

“Antusias warga untuk menerapkan urban farming begitu luar biasa, di wilayah ini bahkan ada 67 produk olahan,” ujar Ketua Tim Juri Dispangtan, M. Ridwan. “Tak hanya produk olahan, laporan kegiatan juga menjadi bahan penilaian yang nanti akan dipertimbangkan lagi pada September mendatang.”

Kegiatan bertani dengan memanfaatkan sempit untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari bagi masyarakat di kawasan perkotaan kini banyak digagas pemerintah. Pasalnya, kegiatan yang acap kali disebut urban farming ini juga dinilai efektif memberikan dampak baik bagi lingkungan. Tak heran jika Pemkot Malang melalui Dispangtan menggalakkan lomba urban farming yang dilakukan di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW.

Program urban farming merupakan kegiatan memanfaatkan ruang terbuka yang tidak produktif seperti -lahan kosong dan lahan-lahan sisa, menjadi kegiatan alternatif aktivitas masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ruang terbuka di kota-kota besar. Penerapan konsep ini mampu menjadikan iklim mikro sebuah lingkungan atau lebih sejuk. Bahkan, bisa memberikan kesan estetik.

Tidak mudah menerapkan konsep urban farming di wilayah perkotaan. Bukan hanya sebatas tantangan mengelola lahan, tetapi juga keterbatasan waktu masyarakat perkotaan. Keterbatasan bisa diatasi dengan menanam tanaman buah dalam pot atau juga bisa menggunakan polybag untuk menghemat biaya.

Ada tiga elemen yang menjadi titik penerapan konsep ini, yaitu ventilasi, pencahayaan, dan tanaman. Akan lebih menguntungkan jika bangunannya sudah mengusung konsep green architecture, karena lebih mudah dipadukan dengan konsep ini. Untuk menyelaraskan konsep ini dengan rumah individu, banyak cara yang dapat dilakukan seperti membuat taman vertikal, tetapi tanamannya diganti dengan tanaman kebun. Bisa juga memanfaatkan rooftop atau rumah yang masih kosong dan strategis sebagai tempat menanam.

Konsep urban farming memiliki visi jangka panjang untuk menciptakan ketahanan pangan secara mandiri dengan menanam sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan lainnya. Penerapan konsep ini dapat memberikan dampak lebih besar terhadap lingkungan jika dilakukan secara massal. Konsep ini tidak boleh berhenti di satu orang, yang lainnya juga harus menyebarkan kesadaran dan semangat untuk peduli terhadap lingkungan.

Pos terkait