Gurihnya Tahu Goreng Rumahan Trisyanto, Eksis Puluhan Tahun di Kota Batu

  • Whatsapp
Tahu Goreng Rumahan Trisyanto - (YouTube: PasarKita)
Tahu Goreng Rumahan Trisyanto - (YouTube: PasarKita)

Kota Batu tidak cuma dikenal sebagai spot wisata populer. Kawasan ini juga punya sentra industri rumahan yang mengolah tahu goreng, tepatnya di daerah Beji. Masih menggunakan metode tradisional, tidak mengherankan jika kemudian tahu goreng yang dihasilkan punya rasa yang autentik. Harganya pun murah, membuat siapa saja tertarik untuk mencicipinya. 

Salah satu produsen rumahan tahu goreng di wilayah Beji adalah Trisyanto. Hampir setiap hari, Trisyanto mengolah sendiri hingga menjadi tahu goreng. Usahanya itu ternyata diwariskan secara turun-temurun dari ayahnya sejak 1985. Namun, Trisyanto sendiri mengembangkan tahu goreng rumahan baru empat tahun terakhir. “Meneruskan usaha ayah saya sejak 1985, saya akhirnya buka sendiri mulai tahun 2018 sampai sekarang,” ujar Trisyanto.

Bacaan Lainnya

Pria berusia 40 tahun itu memproduksi tahu goreng di rumahnya, tepatnya di Jl. Sarimun, Beji, Krajan, Junrejo, Kota Batu. Proses pembuatan tahu goreng Trisyanto diawali dari perendaman selama 5 sampai 7 jam. Setelah itu, kedelai digiling dan dimasak hingga matang, lalu disaring dan diambil ampas kedelainya. Trisyanto tak lupa menambahkan sedikit untuk memperoleh gumpalan sari kedelai.

Setelah melalui berbagai proses, hasil perasan tadi dicetak dan dipotong-potong sesuai ukuran. Tahap terakhir adalah penggorengan. Trisyanto masih memakai metode dan peralatan tradisional selama memasak tahu gorengnya. Tahu goreng yang sudah dingin kemudian ditaburi secukupnya untuk menambah rasa asin. “Selama ini masih belum memiliki pegawai, saya tangani sendiri mulai dari proses pembuatan, penggorengan, hingga pemasaran. Seringkali saya pasarkan di Pasar Pagi Batu setiap jam 2 pagi,” terangnya.

Trisyanto menawarkan tiga pilihan tahu goreng dengan ukuran dan harga berbeda. Tahu goreng paling kecil dijual Rp200, harga ukuran sedang Rp250, dan paling ditawarkan Rp400. Dia menjual tahu gorengnya dengan ecer per biji tanpa kemasan atau dikemas dalam kresek seharga Rp10 ribuan. Ke depan, Trisyanto bertekad mengembangkan lebih lagi dan berharap pelanggannya kian bertambah, sehingga mampu memproduksi tahu goreng dalam skala besar. “Harapannya ingin punya pegawai untuk membantu produksi,” pungkasnya.

Sementara Beji dikenal sebagai sentra produksi tahu, Dusun Karangjambe di kawasan yang sama justru sebagai sentra produsen tempe khas Batu. Dusun tersebut bahkan didapuk sebagai perajin tempe terbesar yang telah puluhan tahun menekuni kuliner dari bahan dasar kedelai ini. Di wilayah ini, setidaknya ada 100 pengusaha tempe yang aktif berproduksi setiap harinya.

Sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Batu dalam mengembangkan potensi sentra industri tempe, Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, telah meresmikan Omah Tempe di Jalan Sarimun, Dusun Karangjambe pada 2019 silam. Wisata edukasi tempe ini diklaim merupakan satu-satunya yang ada di Kota Batu dan bisa jadi di Malang Raya.

Pos terkait