Strategi Nol-Covid China Terlalu Ketat, Jadi Masalah bagi Seluruh Dunia

  • Whatsapp
Ilustrasi: penanganan pandemi di China (sumber: nypost)
Ilustrasi: penanganan pandemi di China (sumber: nypost)

Beijing – Lockdown besar-besaran yang dilakukan China menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan nol-Covid. Inilah yang menjadi masalah bagi seluruh dunia. Tak hanya itu, China kembali terapkan social distancing yang ketat sebagai bukti bahwa China tidak diam saja menanggapi masalah COVID-19 yang sudah berkembang menjadi Omicron.

Dilansir dari South China Morning Post, nol-Covid mengalami penurunan efektivitas ketika ekonomi Barat mulai menyebarkan vaksin. Kombinasi keraguan atas kemanjuran vaksin China karena kasus yang ditularkan oleh komunitas dari varian memicu lockdown seluruh kota, dan memperkuat persepsi bahwa China terperangkap dalam lingkaran setan. 

Bacaan Lainnya

Keraguan efektivitas vaksin dari China juga sempat terjadi di Indonesia ketika lonjakan infeksi virus corona varian terjadi secara signifikan. Lantaran peningkatan kasus dan kematian bukan hanya terjadi pada mereka yang belum vaksin, tetapi juga sebaliknya. Kasus varian Omicron yang terdeteksi di Indonesia terus bertambah didominasi oleh Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN), dari 506 kasus konfirmasi Omicron, 84 kasus merupakan transmisi lokal.

Lockdown yang semakin sering sebagai upaya meningkatkan strategi nol-Covid berisiko gagal untuk menahan penyebaran virus. Ini juga melemahkan pertumbuhan perekonomian yang sebelumnya sudah kian meningkat. Lockdown baru-baru ini yang dilakukan di Anyang dan Xian merupakan tanggapan atas peningkatan kasus dalam skala kecil dibandingkan yang terjadi di banyak negara Barat. Namun, ini menunjukkan bahwa China akan tetap memberlakukan social distancing lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Dampak nol-Covid lainnya adalah di bidang ekonomi global. Gangguan di China, pusat manufaktur dan rumah bagi tujuh dari 10 pelabuhan peti kemas teratas dunia, telah berkontribusi pada ketegangan parah pada rantai pasokan, menyebabkan kemacetan lalu lintas di seluruh dunia yang melanda bisnis dan konsumen.

Industri perkapalan telah menanggung terberat dari gangguan tersebut. Biaya untuk mengirimkan peti kemas 40 kaki dari Shanghai ke Los Angeles, salah satu jalur tersibuk di dunia, telah melonjak menjadi US$10.520, hampir enam kali lipat dari tarif tepat sebelum pandemi meletus, menurut data dari konsultan maritim Drewry. Semakin lama China melakukan lockdown yang ketat, semakin besar tekanan pada rantai pasokan.

Hambatan pasokan akibat strategi nol-Covid juga telah menjadi faktor kunci di balik kenaikan inflasi, terutama di AS. Sementara itu harga pasokan makanan di China relatif stabil karena jatuhnya harga daging babi dan guncangan inflasi.

Sementara sebagian besar perhatian dunia fokus pada kelanjutan respons Beijing, dampak globalnya semakin luas. Dampak dari strategi nol-Covid China adalah ancaman bagi pertumbuhan dan harga aset. Paket dukungan moneter dan fiskal besar-besaran dari ekonomi Barat, yang telah membantu mendorong valuasi dan ekuitas ke tingkat yang berbahaya, akan kembali menghantui mereka. Risiko geopolitik, yang selamanya diremehkan oleh investor, terlihat terlalu rendah.

Tak hanya itu, sikap tanpa kompromi Beijing terhadap virus tersebut menimbulkan tantangan yang bagi negara-negara lain. “Dolar adalah mata uang kami, tetapi masalah terbesarnya ada di China,” kata John Connally, mantan menteri keuangan Presiden AS Richard Nixon. Kebijakan nol-Covid China dinilai sebagai masalah bagi seluruh dunia.

Pos terkait