Status Quo Semakin Merosot, Israel Usir Warga Palestina di Yerusalem Timur

  • Whatsapp
Pendudukan Israel Mencoba Mengusir Jamaah Palestina - (sumber: alray.ps)
Pendudukan Israel Mencoba Mengusir Jamaah Palestina - (sumber: alray.ps)

Yerusalem – Israel dituduh dengan cepat mengikis status quo agama Kota Palestina. Ini mengancam keberadaan penduduk asli Palestina beserta tempat suci umat Islam dan Kristen di Yerusalem. Dengan status quo yang semakin merosot, Israel dikhawatirkan mengusir warga Palestina dengan cara menggusur rumah dan tempat ibadah mereka.

“Kita hidup dalam kemerosotan status quo yang terus menerus,” kata Nazmi Al Jubeh, yang mengajar sejarah dan arkeologi di Universitas Birzeit Palestina kepada jurnalis TRT World. “Ini menjadi tantangan besar dari kebijakan Israel.” 

Bacaan Lainnya

Sebuah organisasi yang dikelola Yordania yang menjalankan urusan masjid Al Aqsa, dengan cepat telah kehilangan kendali atas kompleks keagamaan karena pemisahan. Ini karena kurangnya kepemimpinan Palestina di Yerusalem Timur. Israel yang membawa lebih banyak pemukim ilegal, pada akhirnya akan mengusir semua warga Palestina keluar dari kota.

“Israel telah berhasil menghancurkan kepemimpinan lokal di Yerusalem, melalui Orient House. Jadi, kami tidak memiliki langsung dengan pemerintah Israel mengenai kota itu,” kata Al Jubeh. “Orient House merupakan markas besar Palestine Liberation Organization (PLO) hingga 2001 ketika Israel menutupnya. Kehancuran itu sangat nyata dan kita semua harus menganggapnya serius.”

Pengacara Israel Daniel Seidmann mengatakan, erosi status quo diperparah pada tahun ketika asosiasi rabi di West Bank mulai tidak hanya mengizinkan kunjungan Yahudi ke situs keagamaan, tetapi juga mengeksploitasinya. Rencana mantan presiden AS Donald Trump untuk Yerusalem telah sangat merusak status quo, yang sejak itu telah diadopsi oleh Israel sebagai sebuah kebijakan.

“Apa yang telah kami saksikan selama bertahun-tahun adalah peningkatan aktivitas di daerah ini oleh para pemukim yang bermotivasi alkitabiah dan peningkatan dampaknya dalam membentuk lanskap dan domain publik,” kata Seidmann. “Apa yang kita saksikan di sini adalah fragmentasi Yerusalem Timur, denasionalisasi Palestina dan marginalisasi kesetaraan Kristen dan Muslim.”

Penghancuran status quo oleh Israel juga telah meninggalkan dampak besar pada orang-orang Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki. Pembicara mengatakan umat Kristen sering diganggu oleh polisi Israel dan ekstremis Yahudi di sekitar kota suci.

“Organisasi pemukim Israel menargetkan properti Kristen dan situs suci dengan tujuan menyingkirkan orang Kristen dan mengubah karakter daerah dari Kristen menjadi Yahudi,” kata Michele Dunne, direktur eksekutif Franciscan Action Network di Washington. “Bukit Zaitun, yang merupakan daerah yang didominasi Kristen, juga telah terancam untuk pembangunan taman Israel.”

Para pemimpin Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki tidak lagi diizinkan untuk berbicara dengan siapapun di pemerintahan Israel karena mereka tidak dianggap cukup penting. Di sisi lain, nasib umat Kristen dan tempat-tempat suci mereka dilindungi Raja Yordania Abdullah II di Majelis Umum di New York pada hari Selasa.

“Sebagai penjaga situs suci Muslim dan Kristen Yerusalem, kami berkomitmen untuk melindungi status quo sejarah dan hukum serta keselamatan dan masa depan mereka, kata raja. “Hak-hak gereja di Yerusalem terancam. Ini tidak bisa berlanjut. Kekristenan sangat penting bagi masa lalu dan masa kini wilayah kita dan Tanah Suci. Itu harus tetap menjadi bagian integral dari masa depan kita.”

Pos terkait