Krisis Ekonomi Makin Parah, Sri Lanka Batasi Pasokan Bahan Bakar

  • Whatsapp
Traffic in Sri Lanka - commons.wikimedia.org
Traffic in Sri Lanka - commons.wikimedia.org

Kolombo – Sri Lanka tengah menghadapi ekonomi terburuknya, dengan cadangan devisa terendah dan jutaan orang berjuang membayar makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar. Di sisi lain, dalam upaya menghemat stok bahan bakar, Sri Lanka batasi pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Pemerintah Sri Lanka telah menangguhkan penjualan bensin untuk kendaraan yang dirasa tidak penting selama dua minggu dan mengurangi pembelian bahan bakar dari luar negeri selama seminggu. ekonomi yang semakin memburuk dikaitkan dengan kekuasaan keluarga Rajapaksa. 

Bacaan Lainnya

Selama keluarga Rajapaksa berkuasa, diketahui kekurangan cadangan uang asing memperburuk perekonomian Sri Lanka. Selain itu, kebijakan pemotongan pajak oleh Rajapaksa diklaim mengakibatkan penurunan pendapatan.

Industri seperti teh dan garmen hanya diperbolehkan beroperasi menggunakan bahan bakar sekitar 10 hari, karena stok bahan bakar negara diperkirakan habis dalam waktu kurang dari seminggu berdasarkan permintaan yang stabil. Ini menuai protes di berbagai daerah selama berbulan-bulan dan memaksa beberapa anggota keluarga Rajapaksa mengundurkan diri, termasuk Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa.

Selama dua minggu penangguhan penjualan bahan bakar, hanya bus, kereta api, dan kendaraan yang digunakan untuk layanan medis dan pengangkutan makanan yang akan diizinkan untuk mengisi bahan bakar, sementara beberapa akan dijatah ke pelabuhan dan bandara. Tak hanya berimbas pada transportasi, kelangkaan bahan bakar menyebabkan pemerintah menutup beberapa sekolah dan mendesak para karyawan bekerja dari rumah.

“Kelangkaan bahan bakar juga memaksa keluarga miskin berjuang membeli makanan, karena tidak bisa memasak,” kata karyawan di Kantor Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe kepada jurnalis TRT World. “Sekitar 5 juta orang di Sri Lanka bisa terkena dampak langsung kekurangan pangan dalam beberapa bulan mendatang.

Inflasi makanan di Kolombo, bahkan mencapai rekor tertinggi di bulan Mei, yakni 57,4%. Sayuran, buah, dan produk kaya protein tidak bisa dijangkau keluarga berpenghasilan rendah. Menurut survei WFP (World Food Programme), 86% keluarga makan lebih sedikit, kurang bergizi, hingga tidak makan dalam sehari.

Untuk itu, WFP turun tangan dengan mendistribusikan kupon makanan kepada sekitar 2.000 wanita hamil di Kolombo dan sekitarnya. Kurangnya bahan bakar juga sudah melumpuhkan sekitar 50% layanan transportasi. Ini membuat seorang pengayuh becak berusia 53 tahun meninggal karena serangan jantung pada 16 Juni.

Pariwisata lokal juga terkena dampaknya, padahal pariwisata adalah salah satu sumber ekonomi Sri Lanka yang menyumbang hampir 12% dari devisa negara itu. Selama ini, pariwisata telah menjadi sumber cadangan devisa terbesar ketiga Sri Lanka.

“Penangguhan bahan bakar akan dilakukan selama dua minggu,” kata juru bicara Kabinet Bandula Gunawardena. “Bandara dan layanan pariwisata diperkirakan dapat membeli bahan bakar setelah itu.”

Sri Lanka mengonsumsi sekitar 5.000 ton solar dan 3.000 ton bensin per hari hanya untuk memenuhi kebutuhan transportasinya. Harga bahan bakar naik 12-22% pada hari Minggu, kenaikan kedua dalam beberapa bulan, yang dapat menaikkan tarif listrik sebesar 57%, menambah inflasi yang sudah mencapai rekor 45,3%.

“Ini bukan ekonomi biasa,” kata Menteri Pariwisata Sri Lanka Harin Fernando. “Saya harap, krisis dapat membaik dan bisa melakukan aktivitas normal pada mulai 10 Juli 2022.”

Pos terkait