Terpeleset, Rupiah Melemah Tipis pada Transaksi Senin Pagi

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Senin (23/5) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah harus tergelincir ke area merah pada perdagangan Senin (23/5) pagi ketika fokus pasar tengah tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Indonesia. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 09.07 WIB, mata uang Garuda 6,5 poin atau 0,04% ke level Rp16.648,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot sempat berakhir menguat 77 poin atau 0,52% di Rp14.642 per dolar AS pada transaksi Jumat (20/5) sore.

Menurut analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Revandra Aritama, penguatan rupiah sebelumnya dipengaruhi kebijakan pemerintah yang membuka kembali izin ekspor CPO (minyak sawit mentah). Pasalnya, ekspor CPO mampu memberikan sumbangan devisa yang besar bagi Indonesia. “Selain itu, perdagangan kuartal I 2022 juga surplus, yang memberikan sentimen positif untuk rupiah,” katanya, dilansir dari Tempo.

Bacaan Lainnya

Kendati demikian, lanjut Revandra, sentimen terhadap sikap hawkish sentral AS, Federal Reserve, masih cukup sehingga berpotensi memberi tekanan terhadap rupiah. Perubahan terhadap situasi ini bisa dipengaruhi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG Bank Indonesia) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.

Nyaris senada, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memperkirakan, pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini akan cenderung mendatar. Pasalnya, fokus pasar akan tertuju pada RDG Indonesia yang dimulai pada Selasa (24/5) esok. “Rupiah akan bergerak stagnan di kisaran Rp14.670 hingga Rp14.725 per dolar AS,” ujar Sutopo, dikutip dari Kontan.

Sementara itu, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, memproyeksikan pelemahan rupiah akan masih terus berlanjut seiring dengan kebijakan moneter The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuannya. Selain itu, dana asing yang keluar masih marak terjadi di dalam negeri.

Menurut Nanang, FOMC minutes The Fed akan menjadi perhatian penting, karena pasar akan mencermati ulasan The Fed tersebut mengenai suku bunga. Pelaku pasar berharap akan ada sinyal atau pandangan mengenai suku bunga di pertemuan The Fed pada Juni mendatang. “Namun, perlu diperhatikan pula RDG Indonesia pada tanggal 24 Mei yang diharapkan adanya sebuah normalisasi suku bunga acuan,” papar Nanang.

Pos terkait