Sanksi dari Barat Justru Menguntungkan Ekonomi Rusia

  • Whatsapp
Ilustrasi: mata uang Rubel (sumber: dw)
Ilustrasi: mata uang Rubel (sumber: dw)

Washington – Data ekonomi terbaru dari Rusia menunjukkan bahwa sanksi ekonomi Barat yang dipimpin AS terhadap rubel bukan membuat Moskow krisis ekonomi. Justru, Rusia telah bangkit dan mungkin sanksi tersebut malah menguntungkan Moskow.

Pembuat kebijakan AS, termasuk Mantan Presiden Donald Trump, telah membela pendekatan Amerika selama beberapa dekade bahwa sanksi ekonomi yang keras dapat meyakinkan musuh seperti Rusia untuk meredam peperangan. Namun, data ekonomi terbaru dari Rusia menunjukkan sebaliknya.

Bacaan Lainnya

Dilansir dari TRW World, kombinasi faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan harga minyak dan depresiasi rubel telah membantu Rusia. Rubel yang terdepresiasi membuat Rusia akan mengekspor lebih banyak energi, yang merupakan 40% dari negara. Tahun 2022, baik Rosneft dan Lukoil, perusahaan minyak milik negara Rusia, telah melihat nilai mereka meningkat dibandingkan dengan perusahaan Barat.

Pada tahun 2014, Manuel Oechslin, seorang ekonomi internasional Belanda, menerbitkan sebuah studi komprehensif tentang dampak sanksi ekonomi. Dalam studinya ‘Menargetkan otokrat: Sanksi ekonomi dan perubahan rezim,’ Oechslin berpendapat bahwa banyak sanksi yang berakhir gagal dan tidak mencapai tujuannya.

“Tampaknya banyak dari kasus sanksi seperti yang diberikan ke Rusia berakhir sebelum waktunya,” tulis Oechslin. “Sanksi dicabut setelah beberapa tahun meskipun tujuan yang dimaksud belum tercapai.” 

Seorang mantan pejabat senior perbendaharaan AS, Gary Hufbauer meneliti 57 kasus sanksi AS dari tahun 1914 hingga 2000 dalam sebuah buku berjudul ‘Sanksi Ekonomi yang Dipertimbangkan Kembali,’ yang dianggap sebagai salah satu pandangan paling berpengaruh tentang masalah ini. Dari 57 kasus, Hufbauer menemukan hanya 12 kasus, atau 21% yang berhasil. Sementara itu, sekitar 65% kasus tidak berjalan sesuai tujuan dan sisanya gagal.

Hufbauer melanjutkan penelitiannya tentang masalah sanksi Barat terhadap Rusia dengan menganalisis kasus-kasus baru dari tahun 2000 hingga 2010. Temuannya sangat mirip dengan periode sebelum tahun 2000.

“Kami menganalisis data sebenarnya sebelum Trump menjabat,” kata Hufbauer. “Kami tidak dapat melihat perbedaan besar pada tingkat keberhasilan atau karakteristik keberhasilan antara pasca-2000 dan sebelum 2000. Dalam kasus Rusia, sanksi Barat yang dipimpin AS memiliki lebih banyak alasan untuk gagal.”

Ada banyak alasan mengapa sanksi terhadap Rusia bisa gagal. Ilmuwan politik Amerika mengatakan bahwa sanksi sebagian besar efektif di negara-negara berukuran kecil atau menengah, bukan termasuk Rusia. Rusia, yang merupakan salah satu negara terbesar dengan populasi lebih dari 140 juta orang, tidak sesuai dengan kriteria ini. 

Lalu, alasan terakhir adalah sanksi secara paradoks lebih berhasil terhadap negara sahabat daripada negara saingan atau musuh. Logika di balik ini adalah bahwa para pemimpin negara-negara musuh telah mempersiapkan rezim sanksi lebih dari negara-negara sahabat. Para pemimpin Rusia telah lama bermusuhan dengan AS dan negara-negara Eropa lainnya, sehingga kriteria ini juga tidak sesuai dengan kasus Rusia.

“Para pemimpin negara yang ditargetkan telah mengantisipasi hubungan yang sulit dengan apa yang disebut negara pengirim dan mereka cenderung lebih tahan,” kata Hufbauer.

Secara keseluruhan, ada banyak alasan dalam kasus Rusia bahwa sanksi telah gagal. Data ekonomi terbaru dari Rusia, yang menunjukkan bahwa sanksi AS secara ironis membantu pertumbuhan ekonomi Rusia, mendukung argumen bahwa sanksi AS terhadap Moskow telah gagal.

Pos terkait