Rusia Pertimbangkan Intervensi Karena Kenaikan Rubel Menggigit Ekspor

  • Whatsapp
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov - pikiran-rakyat.com

Moskow – Nilai tukar mata uang Rusia, rubel melonjak pesat terhadap dolar AS. Posisinya diperkirakan naik ke level tertinggi sejak Mei 2015. Itu bukan hal yang bagus untuk saat ini bagi Moskow, karena dikhawatirkan dapat menekan anggaran negara dan ekspor. Dalam hal ini, pemerintah sedang pertimbangkan intervensi untuk mengatasinya.

Para pejabat Rusia mengatakan, intervensi adalah upaya terakhir apresiasi rubel. Untuk melakukan intervensi mata uang asing, Moskow dapat menggunakan kelebihan pendapatan energi, sehingga rubel bisa dikendalikan.

Bacaan Lainnya

“Rusia siap mengorbankan sebagian anggarannya yang bersumber dari kelebihan pendapatan minyak dan gas untuk campur tangan di pasar mata uang asing,” kata Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov kepada jurnalis TRT World. “Ini akan mempengaruhi nilai tukar sebagai langkah terakhir.”

Siluanov menambahkan, pemerintah akan membahas dampak rubel yang terhadap eksportir minggu depan. Nilai tukar bagi eksportir sangat penting. Di sisi lain, nilai rubel yang meroket tidak diinginkan pemerintah Rusia, karena bisa menekan pendapatan negara dan ekspor.

Dikutip dari CNBC Indonesia, kebijakan Presiden Vladimir Putin dan CBR (Central Bank of Rusia) untuk meredam rubel sejauh ini belum terlihat dampaknya. Nilai tukar rubel yang terlalu tinggi bisa berdampak buruk bagi perekonomian Rusia.

“Semakin kuat nilai tukar maka semakin besar,” kata Evgeny Kogan, profesor di Higher School of Economic di Moskow. “ itu akan mempersulit para eksportir, menaikkan biaya, dan mengurangi pendapatan.”

Menurut Kogan, nilai tukar rubel yang mendukung perekonomian berada di kisaran RUB78 – RUB80. Sementara itu, pekan ini di pasar spot, rubel naik sebanyak 8,4% (RUB55,75). Rubel kini mendekati titik terkuat selama 7 tahun lalu, yakni RUB51,5 per USD.

Presiden Putin pun bertindak, kebijakan capital control mulai dilonggarkan. Perusahaan Rusia yang sebelumnya diwajibkan mengonversi valuta asingnya sebanyak 80% menjadi rubel, kini dikurangi menjadi 50%. Keputusan tersebut sudah ditandatangani Kamis (9/6).

“Keputusan tersebut adalah ilustrasi yang bagus, menunjukkan jika nilai tukar rubel berada di bawah RUB60/USD, makan akan berdampak buruk ke eksportir, serta anggaran negara,” kata Evgeny Suvorov, analis di Centro Credit Bank, sebagaimana dilansir Reuters.

Menteri Keuangan Rusia, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal mengatakan pelonggaran tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas rubel dan mencapai kecukupan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Ia juga menyatakan, nilai tukar rubel sudah mencapai puncaknya.

Namun nyatanya, rubel masih terus menguat. Bahkan CBR yang kembali memangkas bunga pada Jumat (10/6) juga belum mampu membuat rubel berbalik melemah. Rubel masih kokoh menjadi mata uang terbaik di dunia, penguatannya sepanjang tahun ini lebih dari 28%.

Pos terkait