Senin Sore, Rupiah Tetap Berakhir Melemah Saat Dolar Merah

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Senin (23/5) sore - mediaasuransinews.co.id

JAKARTA – Rupiah tetap terdampar di zona merah pada perdagangan Senin (23/5) meskipun indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah setelah pasar memangkas taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Menurut Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,20% ke level Rp14.672 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di kawasan Benua justru mampu mengungguli greenback. Yuan China menjadi yang paling perkasa setelah 0,29%, disusul baht Thailand yang naik 0,25%, rupee India yang bertambah 0,23%, dolar Singapura yang terapresiasi 0,22%, dan pes Filipina yang menguat 0,05%. Namun, ringgit Malaysia harus terdepresiasi 0,03%, sedangkan dolar Hong Kong bergerak stagnan.

Bacaan Lainnya

Menurut analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Revandra Aritama, sentimen terhadap sikap hawkish bank sentral AS, Federal Reserve, masih cukup kuat sehingga berpotensi memberi tekanan terhadap rupiah. Perubahan terhadap situasi ini bisa dipengaruhi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG Bank Indonesia) yang dijadwalkan berlangsung pada esok (24/5) hari.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya memulai minggu dengan lesu, menyusul kerugian mingguan pertama dalam hampir dua bulan, karena investor memangkas prediksi mereka tentang kenaikan suku bunga The Fed dan berharap bahwa pelonggaran lockdown di China dapat membantu pertumbuhan global. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,468 poin atau 0,45% ke level 102,682 pada pukul 10.55 WIB.

“Ini adalah awal yang cukup positif untuk minggu ini,” kata kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attrill, dilansir dari Reuters. “Memang ada pembalikan tajam dari kelemahan pasar AS dalam satu jam terakhir atau lebih pada hari Jumat (20/5), sehingga mungkin ada beberapa momentum di sana. Untuk saat ini, dolar AS terlihat kehilangan momentum kenaikan.”

Ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso, menambahkan bahwa dolar AS mungkin telah mencapai puncaknya, mengingat ketahanan Eropa terhadap kejutan energi dan potensi pelonggaran lockdown di China. Ia sendiri memperkirakan investasi lebih cepat pulih daripada belanja konsumen. “Investasi menambang komoditas intensif (dan karena itu) sangat positif untuk mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Kanada, selain yuan,” katanya.

Pos terkait