Dolar Drop Jelang Rilis Risalah The Fed, Rupiah Berakhir Menguat

  • Whatsapp
Rupiah menguat (Sumber : voi.id)

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah ternyata sanggup menutup perdagangan Rabu (23/11) di zona hijau, memanfaatkan pelemahan dolar AS saat fokus pasar sepenuhnya tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10 poin atau 0,06% ke level Rp15.686,5 per dolar AS.

Sementara itu, di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Yuan menjadi yang paling terpuruk setelah terkoreksi 0,09%, diikuti yen Jepang dan dolar Singapura yang sama-sama melemah 0,04%, dan baht Thailand yang turun 0,04%. Sebaliknya, won Korea Selatan mampu menguat 0,51%, sedangkan peso Filipina terapresiasi 0,34%.

Bacaan Lainnya

“Meski melemah pada pagi hari, rupiah diperkirakan akan bergerak menguat pada perdagangan kali ini, ditopang kembalinya sentimen risk on,” tutur analis DCFX Futures, Lukman Leong, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Namun, investor cenderung side-lined menjelang rilis risalah pertemuan Federal Reserve dan liburan Thanksgiving.”

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih rendah pada hari Rabu meskipun investor mengurangi selera mereka menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk tentang prospek inflasi dan suku bunga. Paman Sam terpantau melemah 0,372 poin atau 0,35% ke level 106,850 pada pukul 14.52 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, The Fed pada hari Rabu waktu setempat akan merilis risalah dari pertemuan terbaru mereka, dengan investor mencari tanda-tanda diskusi seputar moderasi laju kenaikan suku bunga. Ketua The Fed, Jerome Powell, sempat mengatakan bahwa sementara biaya pinjaman perlu naik lebih lanjut, bank sentral mungkin menaikkan suku bunga dengan kenaikan yang lebih kecil di masa depan.

Di sisi lain, kembali memperketat pembatasan di beberapa kota karena kasus Covid-19. Kota Chengdu akan melakukan tes massal bagi warga selama lima hari berturut-turut. Sebelumnya, Ibu kota China, Beijing, pada Senin (21/11) kemarin memperingatkan bahwa mereka menghadapi ujian paling parah dari pandemi Covid-19, dengan akibat virus tersebut tercatat untuk pertama kalinya sejak akhir Mei lalu.

“Pengenaan pembatasan baru dalam waktu dekat tidak diragukan lagi akan memiliki dampak ekonomi yang negatif, tetapi setidaknya untuk saat ini pasar tampaknya fokus pada fakta bahwa dalam jangka menengah, ingin secara bertahap bergerak menuju strategi hidup dengan Covid-19,” kata ahli strategi mata uang di National Australia Bank, Rodrigo Catril. “Karena itu, kami berpikir bahwa kemunduran sangat mungkin terjadi dalam proses ini, jadi mungkin ada volatilitas pasar.”

Pos terkait