Jumat Sore, Rupiah Ditutup Menguat Jelang Laporan Nonfarm Payrolls AS

Rupiah (Sumber : bisnis.com)
Rupiah (Sumber : bisnis.com)

JAKARTA – Rupiah tetap bertengger di teritori hijau pada perdagangan Jumat (2/12) sore ketika perhatian saat ini sepenuhnya tertuju pada nonfarm payrolls AS untuk mencari petunjuk tentang prospek suku bunga. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.54 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 137 poin atau 0,88% ke level Rp15.425,5 per dolar AS. 

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk setelah melemah 0,13%, diikuti yuan China yang terkoreksi 0,11%, dan dolar Singapura yang turun tipis 0,04%. Sebaliknya, peso Filipina mampu menguat 0,26%, disusul Jepang yang naik 0,05%, dan baht Thailand yang bertambah 0,02%.

Bacaan Lainnya

“Rupiah diperkirakan melanjutkan penguatan karena dolar AS melemah setelah inflasi PCE AS menunjukkan meredanya tekanan harga, serta data ISM manufaktur menunjukkan aktivitas terkontraksi dan berada di level terendah dalam 2,5 tahun,” ujar analis DCFX Futures, Lukman Leong, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Sementara dari dalam negeri, inflasi November 2022 meredakan tekanan pada Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.”’

Dari pasar global, dolar AS bertahan kuat pada hari Jumat tetapi disematkan di dekat posisi terendah 16 minggu terhadap sekeranjang mata uang utama karena menunjukkan peningkatan belanja konsumen AS pada bulan Oktober 2022, yang menguatkan harapan bahwa puncak suku bunga sudah di depan mata. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,048 poin atau 0,05% ke level 104,776 pada pukul 10.11 WIB.

pada hari Kamis (1/12) menunjukkan bahwa belanja konsumen AS pada bulan Oktober 2022 meningkat pada laju terbesarnya sejak Januari lalu dan pasar tenaga kerja tetap tangguh, dengan jumlah orang AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran pada minggu lalu menurun. Tanda-tanda terbaru dari ekonomi AS yang kuat datang setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan bahwa sudah waktunya untuk memperlambat kenaikan suku bunga.

memperkuat pandangan pasar bahwa FOMC semakin dekat ke akhir siklus pengetatan moneternya, dan itu telah membebani dolar AS,” papar ahli strategi di Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, dilansir dari Reuters. “Dalam waktu dekat, pasar mata uang akan didorong oleh laporan penggajian AS dan mengingat pasar memantau dengan cermat tanda-tanda poros FOMC, laporan yang lebih lemah akan membebani dolar AS.”

Fokus saat ini memang sepenuhnya tertuju pada nonfarm payrolls AS yang diumumkan akhir pekan ini untuk petunjuk tentang bagaimana kenaikan suku bunga telah memengaruhi pasar tenaga kerja. Data nonfarm payrolls AS diprediksi akan menunjukkan 200.000 pekerjaan baru ditambahkan pada bulan November 2022, turun dari 261.000 pada bulan sebelumnya.

Pos terkait