Bertahan di Zona Hijau, Rupiah Ditutup Menguat 0,5%

  • Whatsapp
Rupiah menguat menguat pada perdagangan Senin (8/11) sore - www.liputan6.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Senin (8/11) sore ketika fokus investor tengah tertuju pada rilis data inflasi dan China yang diramalkan melonjak. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 71 poin atau 0,50% ke level Rp14.260 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia bergerak variatif terhadap greenback. Baht Thailand mampu naik 0,34%, disusul yang bertambah 0,09% dan peso Filipina yang menguat 0,05%. Sebaliknya, yen Jepang harus melemah 0,17%, diikuti dolar Singapura yang terkoreksi 0,12% dan yuan China yang turun 0,02%, sedangkan won Korea Selatan terpantau stagnan.

Bacaan Lainnya

“Isu tapering tidak penting lagi bagi -aset Indonesia. Yang paling penting saat ini adalah harga komoditas yang stabil,” tutur ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, dilansir dari CNBC Indonesia. “Kami mempertahankan proyeksi yield obligasi tenor 10 tahun akan mencapai 5,8% dan rupiah akan ke level Rp14.000 per dolar pada tahun ini.”

Dari pasar global, dolar sebenarnya bergerak cukup pada perdagangan hari Senin, tetapi masih tetap di bawah posisi puncak akhir pekan (5/11), ketika pedagang sibuk mencari petunjuk antara proyeksi suku bunga yang bergejolak dan janji bank sentral untuk mempertahankan suku bunga rendah bahkan ketika inflasi melonjak. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,015 poin atau 0,02% ke level 94,305 pada pukul 11.48 WIB.

“Bank-bank sentral telah mendistorsi banyak pasar, memompa pasar ekuitas dan memompa pasar obligasi,” kata ahli strategi di Bank of New Zealand di Wellington, Jason Wong, dilansir dari Reuters. “Mata uang berada di tengah-tengah semua itu, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, dengan pasar tampaknya dalam pola bertahan tetapi dengan yang meningkat, terutama di China ketika ekonomi yang melambat membawa implikasi global.”

Saat ini, pasar menantikan data inflasi yang dirilis Rabu (10/11) waktu setempat, diperkirakan menunjukkan pertumbuhan indeks harga konsumen AS di 5,8% tahun-ke-tahun. Investor juga menantikan data harga produsen dan konsumen China, dengan pertumbuhan harga produsen tahunan diprediksi melonjak hingga 12%, mungkin sebagai pertanda tekanan harga lebih lanjut.

Pos terkait