2 Tahun Politik Tidak Stabil, Raja Malaysia Akan Pilih Perdana Menteri

Raja Malaysia, Al Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah - (www.nst.com.my)
Raja Malaysia, Al Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah - (www.nst.com.my)

Kuala Lumpur – Sudah dua tahun, politik Malaysia tidak menuai keseimbangan. Sebagai monarki konstitusional negara, Raja Malaysia Al Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah memiliki kekuasaan untuk pilih perdana menteri sebagai pemimpin di parlemen.

Raja Malaysia Al Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah menjadi sorotan saat dia mempertimbangkan siapa yang akan menjadi perdana menteri negara berikutnya. Ini setelah pemilihan tidak menghasilkan partai dengan mayoritas di parlemen dan pembicaraan koalisi gagal.

Bacaan Lainnya

Raja, yang juga biasa disebut oleh warga Malaysia sebagai Agong, terus bertemu dengan anggota parlemen pada Rabu (23/11). Ini bertujuan mengukur dukungan mereka terhadap dua kandidat teratas, pemimpin Anwar Ibrahim dan mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin.

“Saya akan segera memutuskan antara Anwar dan Muhyiddin setelah tidak ada politisi yang dapat memperoleh dukungan yang cukup untuk membentuk koalisi setelah pemilihan hari Sabtu (26/11),” kata Raja Malaysia Al Sultan dalam TRT World. “Ini akan menjadi ketiga kalinya raja memilih perdana menteri hanya dalam waktu dua tahun, meskipun ini pertama kalinya terjadi setelah pemilihan.”

Raja Al Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah naik tahta pada tahun 2019 pada usia 59 tahun, menjadi raja Malaysia ke-16 sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957. Malaysia memiliki monarki konstitusional yang unik. 

Raja dipilih secara bergiliran dari keluarga kerajaan di sembilan negara bagian, dan masing-masing memerintah selama lima tahun. Lalu, bagaimana bisa raja memilih perdana menteri?

biasanya menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri di Malaysia di bawah sistem parlementer. Namun, konstitusi memberi raja kekuasaan untuk menunjuk seorang perdana menteri yang diyakini dapat mayoritas di antara anggota parlemen. 

Raja Malaysia memiliki kewenangan untuk tangan dan memecahkan kebuntuan politik. Raja Al Sultan Abdullah juga telah menunjuk dua perdana menteri sebelumnya, meski ini pertama kali terjadi setelah gagal menghasilkan pemenang yang jelas.

Raja Malaysia jarang menggunakan kekuasaan itu, tetapi ketidakstabilan politik dalam dua tahun terakhir telah mendorong Raja Malaysia Al Sultan untuk memilih seorang perdana menteri. Untuk itu, raja bertemu dengan Anwar dan Muhyiddin pada hari Selasa (22/11).

“Raja telah menyarankan agar saya dan Anwar membentuk pemerintahan persatuan bersama,” kata Muhyiddin. “Namun saya menolak.”

Raja telah memanggil 30 anggota parlemen dari aliansi Barisan Nasional untuk pertemuan pada hari Rabu untuk menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri. Barisan membukukan kinerja terburuknya, tetapi memainkan peran penting dalam pembentukan pemerintah karena dukungannya dibutuhkan baik oleh Anwar maupun Muhyiddin untuk meraih mayoritas.

Siapapun yang pada akhirnya diangkat sebagai perdana menteri kemungkinan besar akan menghadapi lebih banyak pergolakan politik seperti yang melanda negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Pos terkait