Bangun Stadion Portable, Qatar Terapkan Strategi Berkelanjutan untuk Lingkungan?

  • Whatsapp
Struktur Megah Stadion Qatar - www.aljazeera.com
Struktur Megah Stadion Qatar - www.aljazeera.com

DOHA –Mengesampingkan tudingan pelanggaran hak asasi manusia terhadap pekerja konstruksi migran, pemerintah Qatar mendirikan dari bahan daur ulang atau dapat didaur ulang, yang dikatakan dapat bisa dibongkar setelah Piala Dunia 2022. Di luar terobosannya, sejumlah pemerhati lingkungan meragukan bahwa stadion tersebut mewakili strategi ‘berkelanjutan’ yang diklaim negara.

Seperti dilansir dari Deutsche Welle, kelas dunia adalah megah dan spektakuler yang dimaksudkan untuk menginspirasi kekaguman, menyambut penggemar, dan menyediakan tempat untuk kompetisi atau hiburan. Bangunan tersebut jelas tidak dimaksudkan untuk berdiam diri dalam waktu yang lama, menyedot uang pembayar pajak untuk biaya pemeliharaan sambil bertambah tua, lebih jelek dan merusak pemandangan.

Bacaan Lainnya

Menyambut gelaran Piala Dunia 2022, Qatar lantas membangun 974, yang dinamakan sesuai kode panggilan negara dan untuk jumlah kontainer pengiriman laut yang digunakan untuk mendirikan bangunan tersebut. Pemerintah Qatar menyebut Stadion 974 sebagai terobosan untuk keberlanjutan acara besar karena dapat diturunkan dan dipindahkan setelah Piala Dunia 2022 berakhir.

“Jika Anda melihat semua kritik untuk semua besar yang dibuat di seluruh dunia, dan tidak ada yang menggunakannya nanti, ini berguna,” kata Zeina Khalil Hajj, juru kampanye terkemuka yang berfokus pada Timur Tengah untuk 350, sebuah organisasi global yang berfokus pada krisis iklim. “Sementara itu layak mendapatkan penghargaan, bukan berarti mereka adalah pelaku terbesar di dunia, karena juga punya kewajiban selaku penghasil CO2 per kapita terbesar per orang di dunia.”

Bodour Al-Meer, kepala keberlanjutan untuk komite penyelenggara lokal Qatar, mengatakan bahwa negara itu sedang berusaha untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan lingkungan. Dikatakannya, Qatar adalah negara kecil dan berkembang pesat dan menjadi tuan rumah Piala Dunia telah mempercepat rencana pembangunan nasional. “Visi kami untuk negara kami adalah untuk memiliki keselarasan antara pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan,” ujarnya.

Komite Tertinggi Qatar, sejalan dengan penyelenggara acara global FIFA, mengklaim bahwa Piala Dunia 2022 pada akhirnya akan menjadi acara netral karbon. Dokumen strategi keberlanjutannya berfokus pada mitigasi emisi, hemat energi, biaya transportasi yang rendah (sebagian karena semua stadion berada sangat dekat dengan pusat Doha), dan praktik pengelolaan limbah berkelanjutan. Selain itu, dokumen tersebut mengatakan, sisa emisi yang tidak dapat dihindari akan diimbangi.

“Semua tujuan mereka baik,” tutur Phillipp Sommer, direktur ekonomi sirkular untuk Aksi Lingkungan Jerman, Umwelthilfe. “Namun, mengimbangi emisi yang tidak dapat dihindari dengan menanam sejuta pohon, seperti yang dijanjikan Qatar, daripada menggunakan tenaga surya atau energi angin untuk mendinginkan tujuh dari delapan stadion, dan menyediakan listrik mereka, adalah bukan apa yang disebut berkelanjutan. Ini seperti greenwashing, hanya untuk kompensasi.”

Seperti diketahui, Piala Dunia 2022 yang biasanya berlangsung tengah tahun, diundur sekitar lima bulan untuk menghindari teriknya musim panas. Namun, Qatar masih diperkirakan akan menggunakan AC bertenaga bahan bakar fosil di terbuka pada November dan Desember 2022 mendatang, seperti halnya di mal perbelanjaan luar ruangan, pasar, dan di sepanjang trotoar yang sibuk.

“Apa yang harus mereka lakukan adalah menggunakan energi terbarukan sepenuhnya. Jadi, semua listrik dan semua pemanasan dan pendinginan harus bekerja pada energi terbarukan,” sambung Sommer. “Jika mereka membangun fasilitas energi baru untuk itu, maka mereka tentu saja dapat digunakan jangka panjang untuk penduduk di sana.”

Sommer percaya pada saat isu perubahan iklim menjadi perhatian utama, akan ada desakan yang salah arah bagi negara tuan rumah untuk membangun baru yang berkilauan untuk acara besar seperti Piala Dunia dan Olimpiade. Bahkan jika Piala Dunia 2022 dapat dibongkar dan dibangun kembali di tempat lain.

“Pertama-tama saya akan mengajukan pertanyaan apakah benar-benar perlu membangun hanya untuk satu tujuan,” kata Sommer. “Jadi mereka sudah berencana untuk membongkarnya nanti. Membangun stadion baru hanya untuk acara ini dan sudah merencanakan itu tidak akan digunakan karena Anda tidak membutuhkannya lagi, itu bukan hal yang benar-benar berkelanjutan.”

Melihat lebih jauh, insinyur Qatar, Bodour Al-Meer, dari Supreme Committee for Delivery & Legacy menegaskan negaranya berada di jalan menuju keberlanjutan. Menurutnya, mereka  memiliki rencana warisan terperinci untuk setiap gedung baru yang dibangun, termasuk stadion.  “Saya pikir strategi warisan untuk negara tuan rumah untuk acara besar akan menjadi lebih penting di masa depan sebagai efek dari Qatar 2022,” paparnya.

Meski demikian, Zeina Khalil Hajj memiliki keraguan tentang salah satu negara paling kotor di planet ini, yang bersiap untuk menampung lebih dari satu juta pengunjung Piala Dunia. Menurutnya, Qatar tidak benar-benar menanamkan cara yang berkelanjutan seumur hidup, padahal mereka mampu melakukannya. “Itu adalah kesempatan yang sangat terlewatkan,” pungkasnya.

Pos terkait