Powell Diisukan Kembali Pimpin The Fed, Rupiah Lanjut Melemah

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Selasa (23/11) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah belum mampu beranjak dari zona merah pada perdagangan Selasa (23/11) pagi seiring kabar bahwa Jerome Powell masih bakal memimpin The Fed. Menurut catatan Index pada pukul 09.10 WIB, mata uang Garuda melemah 15,5 poin atau 0,11% ke level Rp14.264,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot harus terdepresiasi 17 poin atau 0,12% di posisi Rp14.249 per pada transaksi Senin (22/11) kemarin.

“Pelemahan rupiah sebelumnya dipicu kekhawatiran tapering yang lebih cepat, terlebih setelah salah satu pejabat The Fed memberikan pernyataan terkait rencana ini,” tutur analis DC Futures, Lukman Leong, dilansir dari Kontan. “Kekhawatiran pelaku pasar dengan kasus Covid-19 di Eropa kian membuat rupiah semakin tertekan terhadap dolar AS.”

Bacaan Lainnya

Meski begitu, ditambahkan Lukman, fundamental rupiah masih solid, sebab dari domestik, mencatat surplus neraca transaksi berjalan 4 miliar dolar AS, yang jauh dari ekspektasi sebelumnya. Situasi tersebut memang masih akan membuat rupiah tertekan, tetapi dengan pelemahan yang terbatas. “Untuk hari ini, mata uang Garuda akan bergulir pada kisaran Rp14.200 hingga Rp14.300 per dolar AS,” sambung Lukman.

Sentimen lain yang diperkirakan dapat memengaruhi pergerakan adalah kabar pencalonan kembali Jerome Powell untuk memimpin Federal Reserve. Sebelumnya muncul wacana Powell akan diganti, sebab Presiden AS, Joe Biden, juga mewawancarai kandidat lainnya, Lael Brainard. Namun, gosip terbaru menyebutkan Bainard ‘hanya’ akan menjadi wakil ketua bank sentral AS.

“Dengan Powell dicalonkan kembali untuk masa jabatan kedua, itu menunjukkan prospek kebijakan moneter yang kurang dovish daripada di bawah kepemimpinan Brainard,” papar analis pasar senior Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, dikutip Antara. “Sepertinya ada ruang lingkup yang lebih besar untuk kenaikan suku bunga AS di bawah Powell dengan ia tetap sebagai Ketua The Fed, yang tentu saja positif untuk greenback.”

Fokus investor saat ini juga tertuju pada rilis risalah pertemuan FOMC pada Rabu (24/11) waktu setempat, yang akan dievaluasi untuk setiap indikasi baru bahwa hal itu dapat mempercepat pengurangan pembelian obligasi dan menaikkan suku bunga. Dua pejabat The Fed sebelumnya sempat menyatakan langkah pengurangan stimulus yang lebih cepat mungkin tepat di tengah pemulihan ekonomi dan kenaikan inflasi.

Pos terkait