PMI AS Juli 2022 Dilaporkan Tumbuh, Rupiah Berakhir Melemah

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Kamis (4/8) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah harus puas berada di zona merah pada perdagangan Kamis (4/8) sore setelah Index Service PMI AS bulan Juli 2022 dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 14.57 WIB, mata Garuda ditutup melemah 21 poin atau 0,14% ke level Rp14.932,5 per dolar AS.

Sementara itu, mata di kawasan Benua Asia terpantau mampu mengungguli greenback. Won Korea Selatan menjadi yang paling perkasa setelah melonjak 0,23%, diikuti Jepang yang menguat 0,21%, peso Filipina yang bertambah 0,14%, baht Thailand yang naik 0,13%, dan dolar Hong Kong yang terapresiasi 0,11%. Sebaliknya, yuan China harus melemah 0,08% terhadap dolar AS.

Bacaan Lainnya

“Rupiah akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini karena kebijakan The Fed mengenai bunga. Namun, dengan sentimen risk on di bursa, akan sedikit mendukung riskier currency seperti rupiah,” papar Analis DCFX, Lukman Leong, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Pasar juga cenderung wait and see menanti data nonfarm payroll AS dan data PDB Indonesia.”

Pelemahan rupiah juga disebabkan data terbaru yang menunjukkan aktivitas manufaktur di AS mengalami kenaikan pada Juli 2022 kemarin. Semalam, data Index Service PMI AS yang dirilis Institute for Supply Management (ISM) untuk periode Juli 2022 menunjukkan naik ke level 56,7 dari periode sebelumnya di 55,3, serta melebihi ekspektasi pasar di level 53,5. Jumlah pesanan pabrik AS pada Juni 2022 juga tumbuh 2%, lebih tinggi dari periode sebelumnya yang direvisi naik menjadi tumbuh 1,8%.

Dari pasar global, dolar AS berada di terdepan pada hari Kamis, meski terdepresiasi, setelah beberapa pejabat Federal Reserve menolak saran bahwa mereka akan memperlambat laju kenaikan bunga, sedangkan poundsterling bergerak datar menjelang pertemuan Bank of England. Mata Paman Sam terpantau melemah 0,114 poin atau 0,11% ke level 106,392 pada pukul 11.01 WIB.

“Pekan lalu dolar AS turun setelah (pengaturan kebijakan) pertemuan Federal Open Market Committee karena pasar ingin percaya bahwa The Fed berputar secara dovish seiring pertumbuhan yang melambat,” kata ahli strategi mata di Bank of Singapore, Sim Moh Siong, dilansir dari Reuters. “Minggu ini, ada lebih banyak pembicara FOMC yang menentang gagasan tersebut, semuanya menyanyikan nada yang sama, mengharapkan lebih banyak kenaikan bunga.”

Pos terkait