Jadi ‘Komoditas Politik’, Pengungsi Suriah Tertahan di Perbatasan Belarusia-Polandia

  • Whatsapp
Pengungsi Suriah Tertahan di Perbatasan - www.moroccoworldnews.com
Pengungsi Suriah Tertahan di Perbatasan - www.moroccoworldnews.com

JAKARTA – Belanda menjadi salah satu tujuan banyak warga Suriah yang ingin mengungsi dari negaranya. Sayangnya, perjalanan ke Negeri Kincir Angin tidak semulus yang dikira, dan akhirnya harus tertahan di perbatasan Belarusia-Polandia. Pasalnya, sudah sejak lama para imigran ini digunakan sebagai ‘senjata’ dalam kebutuhan politik antara Uni Eropa dan Belarusia.

Seperti diwartakan TRT World, perbatasan darat dan laut selatan yang semakin membahayakan, membuat banyak pengungsi Suriah yang memutuskan untuk terbang ke Belarusia untuk menuju Belanda. Namun, alih-alih sampai di Negeri Tulip, mereka malah terjebak di perbatasan Belarusia-Polandia.

Bacaan Lainnya

Seorang pengungsi, sebut saja Akram, mengatakan bahwa ia rela menjual rumahnya di Latakia dan pergi ke Turki, melewati Evros, dengan berjalan kaki. Tujuan utamanya adalah bergabung dengan saudara perempuannya di Belanda yang berhasil melarikan diri dari Suriah dan sudah menetap selama bertahun- sebagai dokter. Jika berhasil, pria tersebut akan membawa semua keluarganya ke Belanda.

“Saya kembali ke Suriah dari Turki saat mendengar tentang Belarusia,” kata pria tersebut. “Orang bisa mencapai Eropa dari Belarusia dan saya sudah mengajukan permohonan suaka untuk melakukan perjalanan berbahaya ini. Saya mempertaruhkan segalanya untuk perjalanan yang tidak sepenuhnya aman ini. dulu untuk menuju Minsk, saya harus meninggalkan tiga orang putra dan istri di Latakia.”

Tingkat risiko yang lebih rendah memotivasi Akram untuk pergi ke Belarusia. Namun, pria berusia 52 tersebut juga harus rela untuk mendapatkan visa yang tidak gratis, bahkan bisa sangat mahal. Pengurusan visa pun tidak mudah dan harus was-was, karena uang dibayarkan kepada orang yang tidak ia kenal.

Setibanya di Minsk, Akram bertemu dengan sekelompok penyelundup dan melakukan perjalanan ke Polandia, tetapi usahanya gagal dan mereka dikembalikan ke Minsk oleh yang berjaga di perbatasan. Tak ingin menyerah, Akram dan imigran tersebut berangkat lagi menuju Polandia, tetapi kali ini dibantu oleh beberapa Belarusia menggunakan kendaraan militer. 

Setelah diturunkan di sebuah hutan dekat perbatasan, Akram berjalan selama tujuh hari sebelum dijemput penyelundup lain untuk pergi ke tujuan mereka. Meskipun bisa tiba di Belanda dengan selamat dan merasa beruntung karena sudah mengajukan suaka, Akram merasa geram karena sempat tertahan di perbatasan Belarusia-Polandia.

Saat ini, nasib pria tersebut sudah ada di tangan birokrasi Belanda. Meskipun bisa sedikit bernapas lega, Akram tidak bisa bekerja secara legal, karena statusnya masih sebagai imigran ilegal. Hal ini membuatnya frustrasi saat memikirkan orang-orang yang ditinggalkannya. “Saya tidak bisa berkata baik-baik saja meskipun sudah sampai di Belanda. Keluarga saya tidak akan merasa aman tanpa saya dan saya adalah orang yang dapat mendukung mereka,” katanya. 

Memang, sangat berbahaya bagi imigran Suriah untuk ke luar dari wilayahnya, apalagi ke Belanda. Sudah sejak lama para pengungsi ini digunakan sebagai senjata dalam kebutuhan politik antara Uni Eropa dan Belarus. Bagi Uni Eropa, para pengungsi mungkin menjadi pion dalam ‘perang hibrida’ yang dilakukan Belarusia terhadap blok tersebut sebagai pembalasan atas sanksi.

Ada sekitar 4.000 orang yang terdampar di perbatasan Belarusia-Polandia dan sebagian besar berasal dari Suriah, Afghanistan, dan Irak. Mereka masih tertahan dan belum bisa sampai ke Belanda. “Terdampar di perbatasan Polandia-Belarusia lebih aman daripada di jalur laut selatan. Banyak kasus ditemukan, imigran tidak bisa selamat saat mereka pergi ke Belanda atau negara Eropa lain lewat laut selatan,” ucap pihak berwenang Polandia.

Sementara ada banyak imigran yang terdampar di perbatasan, pada Agustus 2021 kemarin, pemerintah Polandia mengumumkan keadaan darurat dan menerapkan ‘zona eksklusif’ selebar 3 km. Dijaga ketat oleh 20.000 polisi, ini malah menciptakan keadaan darurat kemanusiaan. Para pencari suaka terjebak tanpa makanan, air, dan obat-obatan dalam kondisi kedinginan. Setidaknya, ada delapan orang yang tewas di zona eksklusif. Menurut keterangan para saksi di TKP, seorang anak laki-laki Suriah berusia 19 meninggal saat menyeberangi sungai di perbatasan tersebut.

Pos terkait