Diminati Luar Negeri, Pemasaran Usaha Tepung Pisang Lebih Banyak Diekspor

  • Whatsapp
Ilustrasi : Tepung Pisang - www.pertanianku.com

Para pisang mungkin perlu mengembangkan hasil panen pisang agar lebih bernilai jual tinggi. Pasalnya, sejak beberapa tahun lalu, pasar luar negeri memiliki permintaan yang cukup besar terhadap tepung pisang hasil komoditas hortikultura di Indonesia. Pemasaran usaha tepung pisang ini justru lebih terbuka lebar untuk ekspor dibandingkan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Tepung pisang sendiri adalah bubuk yang secara tradisional dibuat dari pisang mentah. Dulunya, tepung pisang dimanfaatkan di Afrika dan Jamaika sebagai alternatif tepung terigu yang lebih murah. Namun, saat ini tepung pisang sering dipakai sebagai pengganti tepung terigu yang bebas gluten dan kerap dipromosikan sebagai sumber pati resisten dalam tren diet paleo dan primal.

Bacaan Lainnya

Tepung pisang mempunyai sangat sedikit rasa pisang karena terbuat dari pisang yang masih mentah, teksturnya mirip dengan tepung terigu, tetapi lebih ringan dan massa jenisnya sekitar 25% lebih kecil, sehingga disebut-sebut sebagai bahan pengganti yang baik untuk tepung terigu putih dan tepung gandum utuh putih.

Meski belum begitu penggunaannya di Tanah Air, nyatanya konsumen tepung pisang di luar negeri cukup melimpah. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Asosiasi Pengolah Hasil Hortikultura (Asppehorti) Jawa Tengah, Prikuntadi Kunto beberapa tahun silam. Kunto menuturkan, produk olahan berupa tepung pisang diminati oleh pasar internasional.

“Diekspor ke Italia per bulan mencapai 10 ton, padahal mintanya 18 ton. Jerman dan Jepang juga berminat, tapi kita terkendala stok karena proses masih manual, belum ada mekanisasi,” jelas Kunto beberapa waktu lalu, seperti dilansir dari Jitunews.

Padahal, produksi pisang di Jawa Tengah kabarnya sangat berlimpah. Asppehorti Jateng memiliki sentra tanaman pisang di Todanan, Blora seluas 8 hektare. Dengan menggandeng Perhutani, luas lahan pisang di Jateng melebihi 20 hektare. “Fokusnya pisang cavendish atau dikenal dengan pisang ambon putih. Lalu pisang ulin dan pisang raja,” beber Kunto.

Kunto mengaku sengaja menciptakan pasar ekspor tepung pisang, bukan buah pisang utuh. Hal ini mengakibatkan harga jualnya lebih mahal dan bisa membantu meningkatkan ekonomi kerakyatan. Sayangnya, pemasaran usaha tepung pisang ini masih terkendala di alat atau mekanisasi.

“Prosesnya ditangani ahli teknologi pangan. Tentu tidak mudah, karena ini membutuhkan biaya besar. Tentunya kami menunggu Aspperhorti Pusat memerintahkan kami seperti apa untuk Jateng. Kalau kami di-support alat, tentunya kami sangat siap, artinya pasar sudah ada. Tinggal mekanisasi,” tandas Kunto.

Pos terkait