Pangeran Harry: Media Sosial Biarkan Disinformasi dan Kebencian Online Tumbuh Subur

  • Whatsapp
Pangeran Harry dari Inggris - people.com
Pangeran Harry dari Inggris - people.com

WASHINGTON – Pangeran Harry dari Inggris mengklaim dirinya sudah sempat memperingatkan bos Twitter, Jack Dorsey, mengenai potensi kerusuhan di AS tepat sehari sebelum insiden di Capitol pada 6 Januari 2021. Menurut Harry, Twitter digunakan untuk melancarkan kerusuhan politik, tetapi sayangnya sang bos tidak menggubrisnya, menegaskan bahwa platform sosial seolah membiarkan informasi salah dan kebencian tersebar dengan bebas.

“Jack dan saya saling mengirim email sebelum 6 Januari, ketika saya memperingatkan dia bahwa platformnya memungkinkan kudeta untuk dipentaskan,” kata Harry di forum teknologi RE:WIRED, seperti dilansir dari South China Morning Post. “Email itu dikirim sehari sebelumnya dan kemudian itu terjadi dan saya belum mendengar kabar darinya sejak itu.”

Bacaan Lainnya

sosial telah mendapat kecaman karena tidak berbuat cukup untuk menghentikan penyebaran informasi yang salah dan konten yang memicu kekerasan politik. Penyerbuan US Capitol oleh para pendukung Donald Trump kala itu sering dikutip sebagai contoh konsekuensi dari membolehkan kebencian online untuk bercokol.

Peran platform sosial dalam memperkuat pandangan ekstremis telah menjadi fokus tajam setelah pengungkapan oleh mantan pegawai Facebook, Frances Haugen, yang mengatakan kepada anggota parlemen di AS dan Eropa bahwa sistem algoritma menyebarkan kebencian online dan tidak memiliki niat untuk berubah. Harry juga menargetkan YouTube, mengatakan banyak video yang menyebarkan misinformasi Covid-19 dibiarkan meskipun melanggar kebijakan situs itu sendiri.

“Yang lebih buruk lagi, mereka datang ke pengguna melalui alat rekomendasi dalam algoritma YouTube sendiri versus apa pun yang sebenarnya dicari pengguna,” katanya. “Ini benar-benar menunjukkan bahwa itu bisa dihentikan, tetapi mereka ternyata tidak ingin menghentikannya karena itu (mungkin) memengaruhi keuntungan mereka.”

Harry memang bersuara cukup lantang untuk melawan informasi palsu yang disebarkan secara online. Awal tahun ini, ia bergabung dengan lembaga AS, Institut Aspen, yang menyelidiki informasi yang salah dan disinformasi di media. Istrinya, Meghan Markle, juga sering berbicara tentang intrusi dan sikap rasis yang memaksa mereka untuk berhenti dari tugas kerajaan dan pindah ke Amerika Utara. “Misinformasi adalah krisis kemanusiaan global. Saya merasakannya secara pribadi selama bertahun-tahun dan sekarang menyaksikannya terjadi secara global,” sambungnya.

Masih dalam sambutannya, Harry mengutip sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa lebih dari 70 persen ungkapan kebencian yang ditujukan kepada istrinya, Meghan, dapat ditelusuri ke kurang dari 50 akun. Dia mengatakan, informasi yang salah menyebabkan kehidupan hancur. “Sekelompok kecil akun diizinkan untuk sejumlah besar kekacauan online dan tanpa konsekuensi apa pun,” tutup Harry.

Pos terkait