Omicron Bikin Resah, Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Senin (29/11) pagi - www.idntimes.com
Rupiah melemah pada perdagangan Senin (29/11) pagi - www.idntimes.com

JAKARTA – Rupiah masih tertunduk lesu pada perdagangan Senin (29/11) pagi ketika varian baru Covid-19 yang dinamakan Omicron membuat resah investor. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda dibuka melemah 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.359,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot harus berakhir terdepresiasi 70 poin atau 0,49% di posisi Rp14.357,5 per dolar AS pada transaksi hari Jumat (26/11) kemarin.

“Aset berisiko, termasuk rupiah, saat ini sedang ditinggalkan investor,” terang analis Monex Investindo Futures, Faisyal, dikutip dari Kontan. “Penyebabnya, investor mengkhawatirkan varian baru virus Covid-19 yang dinamakan Omicron, yang pertama kali berkembang di Selatan. Kini, virus tersebut telah menyebar ke Inggris, Jerman, Belgia, hingga Hong Kong.”

Bacaan Lainnya

Selain itu, rupiah tertekan karena para pejabat Federal Reserve menginginkan proses tapering off yang lebih cepat agar tingkat suku bunga AS juga naik lebih cepat. Karena itu, Faisyal memproyeksikan rupiah masih akan bergerak lebih rendah pada perdagangan hari ini. “Mata uang Garuda akan bergulir pada kisaran Rp14.270 hingga Rp14.380 per dolar AS,” ujar Faisyal.

Hampir senada, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir dari Bisnis, mengatakan bahwa mata uang kemungkinan dibuka fluktuatif, tetapi akan ditutup melemah. Pasalnya, kerugian dolar AS dapat diminimalkan imbas meningkatnya kekhawatiran tentang varian Covid-19 yang baru ditemukan sehingga mengurangi selera untuk aset berisiko.

“Di Eropa, meningkatnya jumlah kasus Covid-19 mendorong Jerman untuk mempertimbangkan mengikuti jejak tetangganya, Austria, dan memberlakukan kembali lockdown,” ujar Ibrahim. “Sementara itu, nada yang semakin hawkish dari Federal Reserve telah meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga pada pertengahan 2020, sedangkan di Eropa dan Jepang tetap pada sikap dovish.”

Ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri, menambahkan bahwa beberapa petinggi The Fed yang menyampaikan pernyataan bernada hawkish membuat pasar kembali melirik dolar AS. indeks dolar AS juga menguat, mengindikasikan dominasi kekuatan mata uang tersebut terhadap sebagian major currencies. Gabungan sentimen tersebut masih akan menyebabkan rupiah dan kurs negara berkembang volatile.

Pos terkait