Surplus Neraca Perdagangan Menyusut, Rupiah Ditutup Melemah

  • Whatsapp
Rupiah - tirto.id
Rupiah - tirto.id

JAKARTA – Rupiah tidak mampu lepas dari zona merah pada transaksi Rabu (15/6) sore, meski dolar AS bergerak lebih rendah menjelang putusan The Fed, setelah surplus perdagangan Mei 2022 dilaporkan menyusut. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, uang Garuda berakhir melemah 46 poin atau 0,31% ke level Rp14.745 per dolar AS.

Sementara itu, uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Won menjadi yang paling terpuruk setelah melorot 0,42%, disusul peso Filipina yang terkoreksi 0,22%, dolar Taiwan yang melemah 0,17%, dan baht Thailand yang terdepresiasi 0,05%. Sebaliknya, yuan China mampu 0,2%, sedangkan rupee India naik tipis 0,05%.

Bacaan Lainnya

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2022 mengalami surplus sebesar 2,9 miliar dolar AS atau menyusut dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat surplus 7,56 miliar dolar AS. Surplus tersebut diperoleh setelah ekspor Indonesia sepanjang bulan kemarin tercatat sebesar 21,51 miliar dolar AS, sedangkan angka impor menembus 18,61 miliar dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS bergerak lebih rendah tetapi masih bertahan di dekat posisi puncak 20 tahun pada hari Rabu menjelang hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve, dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin karena pembuat kebijakan diprediksi mencoba untuk mengendalikan inflasi yang merajalela. uang Paman Sam terpantau melemah 0,251 poin atau 0,24% ke level 105,267 pada pukul 11.19 WIB.

Taruhan menunjukkan peluang 99,7% untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan The Fed yang berakhir hari ini waktu setempat, menurut alat Fedwatch CME, naik dari hanya 3,9% seminggu yang lalu. Kenaikan tajam dalam ekspektasi mengikuti laporan media, termasuk oleh Wall Street Journal yang mengatakan kenaikan suku bunga yang lebih besar akan terjadi setelah data inflasi yang dirilis minggu lalu.

“Mengingat harga agresif saat ini, ada risiko (The Fed) dianggap ‘tidak cukup hawkish’, menurunkan suku bunga AS dan dolar AS secara moderat setelah pertemuan,” kata analis CBA, seperti dilansir dari Reuters. “Dalam pandangan kami, dibutuhkan kenakan lebih dari 75 basis poin, atau anggukan untuk kenaikan 100 basis poin untuk pertemuan FOMC pada Juli mendatang agar mengangkat dolar AS.”

Pos terkait