Lockdown Diklaim Meningkatkan Polusi Udara di Banyak Negara

  • Whatsapp
Lockdown tidak membuat tingkat polusi udara menurun - www.honestdocs.id

Jakarta – Lockdown merupakan salah satu cara untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Meskipun dengan lockdown mobilitas masyarakat berkurang, tidak membuat tingkat polusi menurun. Bahkan di beberapa negara, lockdown malah meningkatkan polusi secara drastis.

University of Chicago melaporkan kepada jurnalis The Guardian, perubahan polusi partikulat rata-rata global hanya terjadi di 2020, itupun tidak signifikan dan cenderung meningkat di tahun berikutnya dengan peningkatan drastis di India. Beberapa penelitian juga membenarkan, lockdown tidak mampu menurunkan polusi global.

Bacaan Lainnya

Analisis data diturunkan dari dan direvisi pada tingkat PM2.5, mengukur partikel yang sangat kecil dan berbahaya. Ini menunjukkan bahwa lockdown yang berlaku di banyak negara memiliki efek positif hanya sementara terkait polusi.

Menurut penelitian Air Quality Life Index (AQLI) dari University of Chicago, tingkat PM 2.5 yang tertimbang turun dari 27,7 menjadi 27,5 g/m3 pada 2019 hingga 2020. Itu lebih dari lima kali lipat dari pedoman WHO (World Health Organization) yang direvisi tahun 2021 menjadi 5 g/m3. 

Meskipun sempat turun, polusi meningkat di seluruh Asia Selatan, yakni wilayah paling tercemar di dunia. Diperkirakan ini bisa membuat penduduk merosot lima tahun ke depan jika tidak segera diatasi. Peningkatan polusi juga tercatat di beberapa negara Asia Tenggara, dengan tingkat polusi naik 25%.

“Fenomena langit biru yang sempat muncul selama lockdown dan diklaim sebagai fenomena bebas polusi hanya berlangsung singkat,” kata Christa Hasenkopf, direktur AQLI. “Efeknya adalah peningkatan polusi yang saat ini kita rasakan dan berdampak jangka panjang.”

Beberapa negara memang mencatat penurunan polusi cukup signifikan di tahun 2020, termasuk Indonesia, ketika tingkat polusi partikulat dari tahun ke tahun turun lebih dari 20% akibat lockdown. Polusi juga menurun secara signifikan di Rusia, China, Jerman, dan Jepang di tahun 2020 dibandingkan tahun 2019.

“Sementara itu, tingkat polusi partikulat rata-rata di India justru meningkat sebesar 2,9%,” kata Hasenkopf. “Namun, daerah Delhi, India, justru mengalami penurunan polusi partikulat sekitar 6% dari 2019 hingga 2020.”

Negara berpenduduk padat lainnya yang mengalami peningkatan polusi drastis, antara lain Bangladesh, Nigeria, Pakistan, dan AS. Revisi pedoman WHO mengenai polusi partikulat yang dapat dihirup manusia sebesar 97,3%. Itu artinya, negara dengan tingkat polusi PM2.5 tidak aman untuk kesehatan terkait polusi.

Menurut analisis AQLI, secara permanen mengurangi polusi global untuk memenuhi pedoman WHO sebesar 5 g/m3 akan menambah 2,2 tahun rata-rata, dari sekitar 72 menjadi 74,2 tahun. Penelitian tersebut tidak membahas alasan mengapa beberapa daerah mengalami kenaikan dan penurunan polusi, tetapi menyebutkan penyebabnya.

“Kami tahu bahwa beberapa negara sedang mengejar ketertinggalan ekonomi saat lockdown,” kata Hasenkopf. “Di tahun 2020 ketika itu terjadi, kebakaran hutan juga sedang melanda beberapa daerah.” 

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan, Indonesia berdampak drastis pada kualitas di tahun 2019. Pada tahun 2020, polusi di Singapura dan Indonesia masing-masing turun 38,3% dan 20,3%. Namun, di tempat lain di Asia Tenggara, PM2.5 meningkat, termasuk di Kamboja (25,9%) dan Thailand (10,8%), dengan penyebab kebakaran biomassa, kebakaran hutan, kebakaran lahan gambut, standar emisi bahan bakar yang longgar, dan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pos terkait