Investor Hindari Aset Berisiko, Rupiah Sore Ini Masih Terjebak di Zona Merah

Rupiah - www.sindonews.com
Rupiah - www.sindonews.com

Jakarta – Kurs rupiah rupanya tak mampu bangkit pada perdagangan Jumat (20/8) sore. Di akhir pekan ini, rupiah melemah 50 poin atau 0,35 persen ke level Rp14.452,5 per dolar AS setelah pagi tadi terkoreksi 52,5 poin atau 0,36 persen menjadi Rp14.455 per USD.

Bacaan Lainnya

Dalam sepekan ini rupiah telah melemah 0,47 persen. Nilai tukar rupiah mencapai level terendah sejak 2 2021. Bahkan kurs rupiah pelemahan Asia pada pagi hari ini. Pelemahan mata uang terjadi hampir merata di seluruh kawasan Asia. “Ini karena penguatan dolar menyebabkan mata uang Asia melemah,” ujar Khoon Goh, head of Asia research ANZ di Singapura, seperti dilansir Kontan. Goh mengungkapkan bahwa ekspektasi tapering Federal Reserve telah mendorong indeks dolar AS bergerak ke zona hijau.

Dalam risalah pertemuan 27-28 Juli yang dirilis Kamis dini hari, pejabat The Fed melihat potensi untuk mengurangi stimulus obligasi tahun 2021 ini apabila kondisi terus membaik seperti yang diharapkan, walaupun kondisi kemajuan lebih lanjut yang substansial menuju lapangan kerja maksimum masih belum tercapai. “Pengurangan pembelian utang biasanya untuk dolar karena itu berarti The Fed tidak akan membanjiri sistem keuangan dengan uang tunai,” ungkap Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Dari dalam negeri, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang lebih ketat sejak awal bulan lalu telah menghambat kegiatan ekonomi. Meski data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 berada di angka 7,07 persen, tetapi memasuki bulan Juli-Agustus 2021 telah terjadi stagnasi yang terlihat dari lesunya aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Indonesia (BI) memprediksi penjualan ritel pada Juli 2021 mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif sebesar 6,2 persen yoy (year on year). “Oleh karena itu, tentu dibutuhkan ‘rangsangan’ untuk menopang gairah perekonomian nasional yang lesu akibat PPKM,” kata Ibrahim. Kekhawatiran mengenai kenaikan kasus Covid-19 pun belum reda, hal inilah yang memengaruhi sikap pasar untuk menghindari aset berisiko, termasuk rupiah.

Pos terkait