Kurs Rupiah Menguat di Pembukaan Usai Rilis Data PDB AS

  • Whatsapp
Rupiah - rebanas.com
Rupiah - rebanas.com

Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat sebesar 5,5 poin ke posisi Rp14.167,5 per di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (29/10). Kemudian, rupiah lanjut tipis 2,5 poin atau 0,02 persen ke Rp14.170 per dolar AS. Kemarin, Kamis (28/10), kurs mata uang Garuda berakhir stagnan di level Rp14.172,5 per USD.

Indeks yang mengukur gerak the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau merugi. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,6 persen menjadi 93,3580 lantaran para investor masih mencerna pergerakan di pasar suku bunga setelah komentar Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dan ekonomi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan.

Bacaan Lainnya

Pasar valas kini tengah bergejolak di tengah aktivitas sejumlah bank sentral. Pergerakan lebih besar dimulai pada Rabu dengan komentar hawkish dari bank sentral Kanada (BoC) dan disusul Kamis oleh tindakan bank sentral Australia (RBA), serta komentar ECB. Semua sentimen tersebut terjadi menjelang pertemuan Federal Reserve AS dan bank sentral Inggris (BoE) pekan depan.

“Pasar sangat terpicu dan sensitif terhadap kekhawatiran inflasi dan anggapan bahwa bank-bank sentral berada di belakang kurva. Faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan volatilitas adalah mendekati akhir bulan ketika lebih banyak manajer investasi menyeimbangkan kembali portofolio mereka di seluruh mata uang,” ucap Mazen Issa, ahli mata uang senior di TD Securities, seperti dilansir Antara.

pun tak memperoleh dukungan dari pemerintah AS bahwa tumbuh hanya di tingkat tahunan 2,0 persen pada kuartal akhir September 2021. Sedangkan para ekonom yang disurvei memprediksi tingkat pertumbuhan sebesar 2,7 persen.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual mengungkapkan bahwa pasar memperkirakan data PDB AS akan mengalami kontraksi. Pasalnya, ekonomi AS sejauh ini masih dibayangi ketidakpastian kebijakan fiskal yang hendak diambil. Terlebih karena parlemen AS belum satu suara terkait debt ceiling AS.

“Di satu sisi, jika sampai data PDB AS ternyata tidak sesuai harapan, maka akan menjadi sinyal bagi untuk tidak perlu terburu-buru melakukan tapering. Jika itu yang terjadi, maka rupiah akan mendapatkan katalis positif,” tutur David, seperti dikutip Kontan.

Pos terkait