Pasar Tenaga Kerja AS Membaik, Rupiah Dibuka Melemah Tipis 3 Poin

Rupiah - www.cnbcindonesia.com
Rupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta – Rupiah dibuka melemah tipis sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.956 per di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (26/5). Kemarin, Kamis (25/5), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 53 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.953 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,34 persen jadi 104,2424 untuk sesi keempat berturut-turut. dolar AS terjadi di tengah kekhawatiran berkelanjutan terhadap kemungkinan gagal bayar utang Serikat dan data ekonomi makro dan pasar tenaga kerja yang optimis.

Bacaan Lainnya

Anggota parlemen AS meninggalkan Washington untuk libur panjang akhir pekan pada Kamis (25/5) tanpa kesepakatan untuk menaikkan plafon utang. Namun, kedua belah pihak hanya terpisah 70 miliar dengan angka total yang akan lebih dari 1 triliun dolar AS.

“Kegagalan mencapai kesepakatan untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang pada tanggal-X akan menjadi sinyal negatif dari tata kelola yang lebih luas dan kesediaan AS untuk memenuhi kewajibannya secara tepat waktu, yang tidak mungkin konsisten dengan peringkat ‘AAA’” ujar Fitch, seperti dilansir dari Reuters melalui Antara.

Selain itu, pasar tenaga kerja AS terus menunjukkan tanda-tanda perbaikan karena permohonan tunjangan pengangguran untuk pertama kali mengalahkan ekspektasi pasar untuk minggu kedua berturut-turut. Pada Kamis (25/5), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, jumlah warga AS yang mengajukan klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir 20 Mei naik menjadi 229.000 dari 225.000 minggu sebelumnya tetapi lebih rendah dari perkiraan konsensus 248.000.

Sementara itu, rupiah diprediksi lanjut melemah pada perdagangan ini. Menurut Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong, yang membayangi masih seputar ketidakpastian dalam penyelesaian plafon utang AS yang berpotensi menyebabkan gagal bayar. Tetapi, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah kemungkinan terbatas. “Pasalnya, Bank Indonesia dalam rapat kemarin bernada hawkish, baik untuk ekonomi maupun rupiah,” ujarnya pada Kontan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, penguatan dipengaruhi ekspektasi pasar mengenai kemungkinan Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Juni 2023 mendatang. “Dari sisi data ekonomi, pasar akan menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2023 serta data initial jobless claim AS,” tandas Josua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *