Gerak Dolar AS Stabil, Rupiah Diprediksi Lanjut Melemah di Perdagangan Hari Ini

  • Whatsapp
Ilustrasi: nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (sumber: finrollnews.com)
Ilustrasi: nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (sumber: finrollnews.com)

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 19 poin atau 0,13 persen ke angka Rp14.276,5 per dolar AS di awal pagi hari ini, Rabu (24/11). Sebelumnya, Selasa (23/11), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 8,5 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.257,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau bertahan di dekat level tertinggi 16 bulan. Pada akhir Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS sedikit berubah di level 96,461, usai mencapai posisi tertinggi 16 bulan di 96,61 dalam perdagangan overnight.

Bacaan Lainnya

Pergerakan dolar AS ini terjadi usai Jerome Powell terpilih untuk menjabat sebagai Ketua Federal Reserve di tahun keduanya. Hal itu pula yang memperkuat harapan pasar bahwa suku bunga acuan akan mengalami kenaikan tahun 2022 mendatang.

Gerak pasar mata uang selama beberapa bulan belakang sebagian besar didorong oleh persepsi pasar mengenai langkah yang berbeda, di mana bank-bank sentral global mengurangi stimulus di era pandemi dan menaikkan suku bunga. Pengangkatan kembali Powell sekaligus mendukung pendapat bahwa The Fed mungkin akan mulai menaikkan suku bunga di pertengahan 2022, usai program pembelian obligasi dihentikan.

“Pasar menganggap hasilnya sebagai sedikit hawkish, dan kontrak berjangka sekarang memperkuat ekspektasi untuk kenaikan pada Juni dari yang condong ke arah Juli,” kata mata uang di Brown Brothers Harriman, seperti dilansir dari Reuters melalui Antara.

Sedangkan pada Selasa (23/11) dilaporkan bahwa bisnis di AS melambat secara moderat pada November 2021. Hal ini disebabkan kekurangan tenaga kerja dan penundaan baku yang berkontribusi pada harga yang terus melonjak pada pertengahan kuartal keempat.

Dari dalam negeri, melemah karena dipicu kekhawatiran pasar terkait semakin tingginya angka inflasi di AS. Kondisi tersebut dikhawatirkan bisa mendorong perubahan kebijakan moneter yang lebih cepat. “Pasar juga wait and see terhadap kebijakan lanjutan yang akan ditempuh The Fed setelah Jerome Powell terpilih kembali sebagai ketua The Fed,” kata ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri pada Kontan.

DC Futures Lukman Leong menambahkan, volatilitas masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan dan bergerak cenderung melemah. “Ini juga karena pasar tengah menanti rilis data PDB dan Indeks Harga Belanja Personal AS,” tandasnya.

Pos terkait