Keputusan BI Jadi Sentimen Negatif, Rupiah Berkutat di Level Rp15.039/USD

Rupiah - www.detik.com
Rupiah - www.detik.com

Jakarta dibuka sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke angka Rp15.039 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (22/7). Kemarin, Kamis (21/7), nilai tukar uang Garuda ditutup melemah 47 poin atau 0,31 persen ke Rp15.036,5 per USD.

Sementara itu, euro terpantau menguat terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB. Euro naik 0,17 persen menjadi 1,0198 dolar AS usai naik setinggi 1,0279, level terkuat dalam hampir 2 pekan. Penguatan euro terjadi usai Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan kenaikan suku bunga 50 basis poin untuk meredam inflasi dalam kenaikan suku bunga pertama sejak 2011.

Bacaan Lainnya

ECB dilaporkan menaikkan suku bunga deposito acuan menjadi 0 persen, melanggar panduannya sendiri untuk 25 basis poin. Langkah itu dilakukan untuk bergabung dengan bank sentral global dalam mendongkrak biaya pinjaman.

“Dalam menembakkan salvo pembukaan yang gemilang ini, ECB menunjukkan fleksibilitas dan kemauan untuk bergerak di luar panduan ke depannya sendiri, menunjukkan bahwa kebijakan moneter hawkish telah menguasai Dewan Gubernur,” jelas Karl Schamotta, Kepala Pasar di perusahaan pembayaran bisnis Corpay, seperti dikutip dari Antara.

Di sisi lain, diprediksi lanjut pada perdagangan Jumat ini. Melemahnya dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri. Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual, keputusan Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan suku bunga acuannya pada level 3,5 persen menjadi sentimen negatif untuk kurs rupiah.

“Dengan yang akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada FOMC meeting bulan ini, maka spread antara suku bunga The Fed dan BI akan semakin menyempit,” jelas David, seperti dilansir dari Kontan.

David menjelaskan, langkah BI ini berpotensi memicu terjadinya capital outflow. Apalagi dengan bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang masih rendah. Di sisi lain, bank-bank luar negeri sudah menaikkan suku bunganya mengikuti arah Federal Reserve (The Fed). Respons negatif pasar diperkirakan bakal menyeret rupiah ke zona merah dan diperdagangkan pada kisaran Rp14.970 hingga Rp15.070 per dolar AS.

Pos terkait