Rupiah Berhasil Rebound di Tengah Penurunan Tajam Dolar AS

  • Whatsapp
Rupiah - independensi.com
Rupiah - independensi.com

Jakarta – Rupiah dibuka menguat sebesar 70 poin atau 0,45 persen ke level Rp14.649 per dolar di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (20/5). Kemarin, Kamis (19/5), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 30,5 poin atau 0,21 persen ke angka Rp14.719 per USD.

Indeks dolar yang mengukur gerak the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 1,0 persen menjadi 102,79, level terendah sejak 5 Mei 2022. Penurunan dolar AS terjadi karena sebagian besar mata uang utama yang terpukul kenaikan greenback tahun ini telah memikat pembeli.

Bacaan Lainnya

“Investor mungkin sudah cukup dengan dolar dan mencari untuk mendiversifikasi risiko – terutama karena dukungan dolar AS yang lebih luas dari kenaikan imbal hasil AS tampaknya telah maksimal,” ungkap Kepala Strategi Mata Uang Scotia Bank, Shaun Osborne, seperti dilansir dari Antara.

Dolar sempat mencapai level tertinggi hampir dua dekade minggu lalu, sebab Federal Reserve bersikap hawkish dan meningkatnya kekhawatiran kondisi ekonomi global yang membantu menopang dolar AS. Mata uang Amerika Serikat ini telah 7,5 persen untuk tahun ini.

“Ya, dolar secara luas lebih rendah hari ini meskipun kondisi risk-off di ruang lintas aset, tetapi apakah ini berarti status dolar aman mulai melemah? Kemungkinan besar tidak,” ujar Kepala Analisis Valas Monex Europe, Simon Harvey.

Sementara itu, rupiah diprediksi akan bergerak melemah terbatas terhadap dolar pada perdagangan hari ini. Pasalnya, para pelaku masih akan mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat. “Ini mempertimbangkan pengumuman pembukaan kembali ekspor CPO oleh presiden,” tutur Kepala Ekonom Josua Pardede pada Kontan.

Namun, Josua menilai sentimen pengetatan kebijakan moneter AS yang bisa berdampak pada stagflasi di AS diprediksi masih akan tetap menimbulkan risk off di keuangan global. Dampak dari pengetatan kebijakan moneter global akan berpengaruh pada perlambatan ekonomi global. Di samping itu, komentar Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengungkapkan bahwa pihaknya akan tetap menaikkan suku bunga juga dapat menjadi faktor penggerak bagi rupiah.

Pos terkait