Data Inflasi AS yang Moderat Bikin Rupiah Lanjut Menguat pada Jumat Pagi

Rupiah menguat (Sumber : www.cnbcindonesia.com)

Jakarta dibuka menguat sebesar 135,5 poin atau 0,87 persen ke posisi Rp15.427 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (2/12). Kemarin, Kamis (1/12), nilai tukar Garuda berakhir terapresiasi tajam sebesar 169 poin atau 1,07 persen ke angka Rp15.562,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the Greenback terhadap enam utama terpantau merosot. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 1,15 persen jadi 104,7300, lantaran inflasi pilihan Reserve (The Fed) melambat pada bulan Oktober 2022.

Bacaan Lainnya

Pada Kamis (1/12), Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran pribadi (PCE) AS meningkat 0,3 persen pada Oktober, untuk kenaikan 6,0 persen tahun ke tahun. Indeks turun dari kenaikan tahunan 6,3 persen yang direvisi naik pada September 2022. Indeks harga PCE inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, menguat 5,0 persen selama 12 bulan belakangan, dibandingkan kenaikan tahunan sebesar 5,2 persen pada September.

Menurut Analis DCFX Futures Lukman Leong, kurs rupiah hari ini, Jumat (2/12), diprediksi bakal menguat karena data inflasi bulan Oktober 2022 yang menunjukkan penurunan tekanan. “Hal ini akan meredam sentimen negatif perlambatan ekonomi yang selama ini menekan rupiah dengan meredanya kekuatiran akan kenaikan BI yang agresif,” jelas Lukman pada Kontan.

Lebih lanjut Lukman menjelaskan, investor tetap perlu waspada terhadap aksi profit taking usai rupiah menguat tajam kemarin. Adapun sentimen yang bisa mempengaruhi gerak rupiah berasal dari rilis data inflasi AS PCE, data manufaktur ISM AS, dan data tenaga kerja Amerika Serikat.

Tak jauh berbeda, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi juga memperkirakan rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS. Dolar AS kemarin terperosok setelah Gubernur Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral kemungkinan dapat memperlambat laju kenaikan acuannya di masa depan.

“Sementara sentimen positif dari domestik berasal dari optimisme Bank bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 4,5% hingga 5,3% pada 2022 di tengah tantangan risiko resesi yang menghantam dunia,” tutupnya.

Pos terkait