Data Penjualan Ritel AS Perkasa, Kurs Rupiah Pagi Ini Melempem

  • Whatsapp
Rupiah - Tribunnews.com
Rupiah - Tribunnews.com

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (17/11), dengan pelemahan sebesar 19 poin ke angka Rp14.239,5 per dolar AS. Kemudian, rupiah lanjut melemah 21,5 poin atau 0,15 persen ke Rp14.241,5/USD. Sebelumnya, Selasa (16/11), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 18,5 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp14.220 per USD.

Sementara itu, indeks dolar yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah utama terpantau naik ke level tertinggi 16 bulan. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,385 persen menjadi 95,898, usai sebelumnya menginjak 95,928, level tertinggi sejak bulan Juli 2021. dolar AS terjadi usai data menunjukkan konsumen Amerika Serikat terlihat melampaui kenaikan harga dan mendorong penjualan ritel lebih tinggi dari prediksi bulan lalu.

Bacaan Lainnya

Data penjualan ritel dilaporkan naik 1,7 persen pada Oktober 2021, melebihi prediksi sebesar 1,4 persen. Hal tersebut kemungkinan karena warga AS mulai belanja liburan mereka lebih awal untuk menghindari rak kosong di tengah kekurangan sejumlah barang lantaran pandemi telah menghambat rantai pasokan.

“Jika Anda melihat pasar AS, ada lebih banyak spekulasi, setidaknya dalam perkiraan harga pasar tersirat, bahwa suku bunga akan naik lebih dari satu kali tahun depan,” ujar Mazen Issa, ahli strategi valas senior di TD Securities, seperti dilansir Antara. “Setelah laporan IHK minggu lalu, bendungan baru saja jebol dan dolar serta kompleks valas pasti ikut bergerak. Laporan penjualan eceran hari ini hanya menambah bahan bakar ke api,” imbuhnya.

Sedangkan rupiah hari ini diprediksi akan konsolidasi, terlebih karena pasar tengah menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Indonesia (BI) yang diselenggarakan pekan ini. “Pasar masih menunggu keputusan suku bunga BI pada hari Kamis (18/11). Oleh sebab itu, kemungkinan besar rupiah akan bergerak cenderung flat seiring minimnya sentimen berarti di pasar,” kata Presiden Komisioner HFX Internasional Sutopo Widodo, seperti dikutip dari Kontan.

Rupiah juga masih dipengaruhi sentimen eksternal, yang mana penguatan dolar masih terasa. Sejak hari Selasa kemarin, indeks dolar AS menguat usai memperoleh dukungan dari yield US Treasury.

Pos terkait