Inflasi AS Meningkat, Kurs Rupiah Dibuka Melorot ke Rp14.475/USD

Rupiah - viva.co.id
Rupiah - viva.co.id

Jakarta – Kurs rupiah dibuka melemah sebesar 11,5 poin ke angka Rp14.475 per dolar di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (14/7). Kemudian, rupiah lanjut melemah 31,5 poin atau 0,22 persen ke Rp14.495/USD. Sebelumnya, Selasa (13/7), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 29 poin atau 0,20 poin ke level Rp14.463,5 per USD.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,54 persen menjadi 92,7538 usai laporan inflasi lebih dari prediksi pasar.

Pada Selasa (13/7), Departemen Tenaga Amerika Serikat melaporkan bahwa indeks harga konsumen (IHK), ukuran inflasi yang dipantau secara ketat, mengalami kenaikan sebesar 0,9 persen pada bulan Juni 2021, melampaui perkiraan sebelumnya sebesar 0,5 persen oleh para ekonom. Angka itu juga merupakan peningkatan terbesar dari tahun 2008. Sedangkan kenaikan inflasi tahunan mencapai level 5,4 persen pada Juni 2021, demikian seperti dilansir Xinhua melalui Antara.

Dari dalam negeri, rupiah berada pada tren positif berkat dukungan cadang devisa Indonesia pada akhir Juni 2021 yang mencapai 137,1 miliar dolar AS. Angka tersebut naik 0,7 miliar dolar AS atau 0,51 persen dari posisi akhir Mei 2021 sebesar 136,4 miliar dolar AS. Di samping itu, harapan pasar bahwa data neraca perdagangan Indonesia masih akan kembali surplus juga menjadi sentimen positif untuk rupiah ke depannya.

“Saat ini dari sentimen eksternal pasar mengekspektasikan The Fed belum akan melakukan pengetatan moneter, baik dari sisi tapering maupun kenaikan suku acuan. Hal ini membuat pelaku pasar melepas kepemilikan dolar AS sehingga jadi katalis positif untuk mata uang berisiko seperti rupiah,” kata Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, seperti dikutip dari Kontan. Investor pun kini sedang dalam posisi wait and see menjelang rilis data neraca perdagangan.

Sedangkan analis Futures Lukman Leong justru berpendapat sebaliknya. Lukman memperkirakan rupiah berpeluang untuk melemah karena koreksi dolar AS. Di satu sisi, dolar AS hari ini akan menguat seiring pasar yang menunggu data inflasi AS. Selain itu, perkembangan kasus positif Covid-19 di Indonesia juga menjadi perhatian pasar.

Pos terkait