Kurs Rupiah Dibuka Melemah Usai Rilis Data Penjualan Ritel AS

  • Whatsapp
Rupiah - www.mnctrijaya.com
Rupiah - www.mnctrijaya.com

Jakarta – Rupiah pada perdagangan pagi hari ini, Jumat (14/1), dibuka melemah sebesar 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp14.303 per dolar AS. Kemarin, Kamis (13/1), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi sebesar 29 poin atau 0,20 persen ke angka Rp14.294,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,13 persen menjadi 94,7989 lantaran pelaku pasar terpengaruh oleh prediksi berbagai data ekonomi Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis menyebutkan, indeks produsen dan indeks harga grosir AS tumbuh 0,2 persen pada Desember 2021, level kenaikan terkecil selama kurun waktu 13 bulan. Kenaikan tersebut rupanya jauh di bawah perkiraan sebesar 0,4 persen dari para ekonom.

Sedangkan lain menyebutkan bahwa Departemen Tenaga Kerja mencatat klaim pengangguran awal Amerika Serikat atau indikator untuk mengukur PHK mengalami kenaikan sebanyak 23.000 orang menjadi 230.000 pada akhir 8 Januari 2022. Di sisi lain, para ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memprediksi klaim pengangguran baru akan turun jadi 200.000 orang.

Menurut Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, nilai tukar rupiah berpotensi untuk kembali menguat pada perdagangan hari ini. Sutopo berpendapat, secara teknikal memang sudah saatnya bagi indeks dolar AS untuk melemah, sehingga rupiah akan memperoleh keuntungan dari hal itu.

“Pasar hari ini menanti rilis data penjualan retail AS serta initial jobless claim. Namun sebenarnya datanya tidak berpengaruh banyak di tengah inflasi AS yang tinggi, hanya akan mengonfirmasi kenaikan suku acuan yang sudah diantisipasi pasar,” beber Sutopo, seperti dilansir dari Bisnis.

Senada, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menuturkan bahwa melemahnya dolar AS berhasil menguntungkan rupiah. Terlebih karena naiknya data inflasi AS dari CPI hingga 7 persen pada tahun ke tahun tak mampu berkontribusi banyak untuk penguatan dolar AS. “Ditambah lagi tekanan dolar juga ditengarai akibat profit taking pada imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang sebelumnya sempat ke 1,80% kembali terkoreksi ke 1,74%,” pungkasnya.

Pos terkait