Inflasi AS Naik Sesuai Prediksi, Kurs Rupiah Rebound ke Rp14.310/USD

  • Whatsapp
Rupiah menguat pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (13/1) - www.cnbcindonesia.com

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (13/1), dengan penguatan sebesar 13,5 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp14.310 per dolar AS. Kemarin, Rabu (12/1), kurs uang Garuda berakhir melemah 19,5 poin atau 0,14 persen ke angka Rp14.323,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap enam uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,7 persen menjadi 94,944, usai terpeleset ke posisi 94,903, level terendah sejak 11 November 2021. Penurunan indeks dolar AS terjadi usat data menunjukkan lonjakan harga konsumen pada Desember sesuai ekspektasi, sehingga gagal memberi dorongan baru untuk upaya-upaya normalisasi kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Bacaan Lainnya

Harga konsumen AS dilaporkan naik pada Desember 2021, dengan kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir 4 dekade. Hal ini dapat meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat mulai menaikkan suku bunga acuannya pada awal Maret 2022 mendatang.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (12/1) bahwa indeks harga konsumen (IHK) meningkat 0,5 persen jika dibandingkan bulan lalu usai naik 0,8 persen pada bulan November. Dalam kurun waktu 12 bulan hingga Desember 2021, IHK telah menguat 7,0 persen, kenaikan yoy (year on year) terbesar sejak Juni 1982.

“Ekonomi AS tampaknya siap untuk kenaikan suku bunga yang akan dimulai pada Maret. Masalah dolar adalah bahwa sudah memiliki ekspektasi yang sangat hawkish untuk kebijakan Fed tahun ini. Jadi, sepanas harga IHK hari ini, itu hanya memperkuat apa yang sudah dimasukkan untuk dolar dan kebijakan Fed,” beber Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, seperti dilansir dari melalui Antara.

Sedangkan rupiah tampaknya hari ini diprediksi masih akan melemah. Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, rupiah gaga memanfaatkan pelemahan dolar AS kemarin usai komentar Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang mendinginkan melalui pernyataannya yang dinilai kurang hawkish. Powell mengungkapkan bahwa inflasi yang tinggi hanya akan sampai tahun 2022.

“Namun bayang-bayang kenaikan suku bunga The Fed masih membebani rupiah. Pasalnya, Powell juga mengatakan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan lebih banyak jika dibutuhkan untuk menjinakkan inflasi yang terus naik saat ini,” jelas Alwi pada Kontan. Hari ini, jika data inflasi CPI AS melebih prediksi, maka berpotensi memunculkan kembali sentimen pengetatan The Fed yang lebih cepat dari perkiraan.

Pos terkait