Konsumen Lebih Irit Imbas Inflasi, Bukalapak: Peluang untuk Warung Tradisional

  • Whatsapp
Perusahaan Bukalapak - grid.id

JAKARTA – Inflasi yang terus melambung sebagian besar masyarakat Indonesia terpaksa mengencangkan ikat pinggang mereka dalam membeli kebutuhan sehari-hari. Alih-alih mencari produk dalam besar, mereka akan cenderung membeli barang dengan volume lebih kecil. Hal tersebut menurut Bukalapak dapat menjadi peluang bagi pengusaha warung-warung tradisional.

“Kami melihat kemungkinan jika terjadi inflasi, akan ada downtrading dari konsumen,” tutur Teddy Oetomo selaku presiden perusahaan Bukalapak, seperti dilansir dari Nikkei Asia. “Ini akan menjadi katalis positif bagi warung yang sebagian besar penjualannya dalam volume kecil.”

Bacaan Lainnya

Operator platform e-commerce, yang pada tahun 2021 lalu menjadi unicorn pertama di Indonesia, yakni perusahaan swasta senilai 1 miliar dolar AS atau lebih, yang go public, melakukan upaya besar membantu warung untuk go digital dan mempromosikan pesanan inventaris dan layanan manajemen untuk mereka. “Dari sejarah Indonesia, jika terjadi inflasi, konsumen akan beralih, misalnya dari konsumsi sampo ke sachet,” sambungnya.

Sementara itu, mengenai masa depan Bukalapak, dirinya mengaku ‘optimistis’ untuk pertumbuhan ‘berkelanjutan’ meskipun Bukalapak memperkirakan kerugian sebelum pajak yang lebih besar tahun ini, mengutip penawaran peningkatan bauran produk yang lebih menarik bagi pelanggan. Hal tersebut dikatakannya sudah mulai terlihat hasilnya dalam beberapa kuartal terakhir. “Kami juga melihat bahwa kemajuan ini akan berlanjut hingga 2022,” tambah Teddy.

Bukalapak pada hari Selasa (28/6) kemarin mengungkapkan perkiraannya untuk hasil keuangan tahun ini sebagai bagian dari presentasi yang ditawarkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang paparan publik, dengan potensi kerugian sebelum pajak sebesar Rp1,5 triliun untuk tahun 2022, dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp1,41 triliun. Angka-angka itu diproyeksikan berdasarkan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) yang disesuaikan.

“Memang, ini secara luas dapat dilihat sebagai pesan ketika kerugian (perusahaan) bisa melebar,” lanjut Teddy tentang panduan itu. “Ini bukanlah target perusahaan dan panduan EBITDA yang disesuaikan diharapkan relatif datar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.”

Untuk seluruh tahun 2022, pendapatan perusahaan diperkirakan akan mencapai antara Rp2,7 triliun hingga Rp3 triliun, melonjak sebanyak 61% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan pada kuartal I kemarin sebesar Rp788 miliar, sedangkan selama tiga bulan pertama tahun ini, perseroan mengalami rugi EBITDA sebesar Rp372 miliar.

Ditanya apakah perusahaan ingin memperluas investasi di perbankan, Teddy mengatakan akan terus mengevaluasi peluang yang ada. Ia menegaskan bukannya Bukalapak ingin menjadi bank digital, tetapi strategi yang mereka ambil adalah kemitraan dengan yang ahli di bidang ini, karena infrastruktur yang dibutuhkan. “Ke depan, untuk investasi secara umum, kami menyadari bahwa uang ini harus digunakan seefisien mungkin,” pungkas dia.

Pos terkait