Dikonversi Kompor Gas, Bagaimana Geliat Usaha Kompor Jadul Saat ini?

  • Whatsapp
Produsen Kompor Minyak Tanah - (YouTube: PasarKita)
Produsen Kompor Minyak Tanah - (YouTube: PasarKita)

Seiring dengan teknologi yang berkembang, peralatan memasak modern memang banyak dipasarkan saat ini. Meski begitu, yang masih setia memakai peralatan memasak tradisional tentu juga tidak sedikit. Di Desa Watugong, Tlogomas, Kota Malang, terdapat produsen kompor minyak tanah yang hingga kini masih eksis memenuhi masyarakat. Rozak, salah satu produsen kompor minyak di Desa Watugong bahkan pernah memasarkan produknya hingga ke luar Pulau Jawa.

Sejak pemerintah memberlakukan program konversi minyak tanah ke elpiji, tentu berdampak pada produsen kompor minyak tanah. Bahkan, sekitar tahun 2007 banyak produsen kompor minyak tanah gulung tikar. tersebut berbeda dengan Rozak yang masih tetap memproduksi ratusan unit kompor minyak tanah setiap minggunya. “Kami memproduksi 1 minggu sekitar 500 unit kompor minyak tanah. Bahan bakunya yakni seng bekas yang diperoleh dari dan Jakarta,” ujar Produsen Kompor Minyak Tanah di Watugong, Rozak.

Bacaan Lainnya

Warga yang beralamat di Jl. Kanjuruhan, Desa Watugong, Kelurahan Tlogomas tersebut mulai merintis usahanya sejak 1993 silam. Kemudian pada 2010, Rozak berkesempatan bekerja sama dengan civitas dari Brawijaya Malang untuk membuat kompor biomassa. Kompor berbentuk klasik yang diberi nama Kompor UB 16 itu tak lagi memakai minyak tanah, tetapi memakai batu bara, pelet, dan kayu sebagai bahan bakarnya. “Saya bereksperimen dengan mahasiswa UB membuat kompor batu bara dari 2010-2012. Karena adanya pergantian kepala negara, produksi kompor tersebut sudah dihentikan,” ungkap Rozak.

Meski begitu, Rozak tak pernah berganti profesi karena dia tetap mengembangkan usahanya dengan memproduksi kompor minyak tanah. Hal tersebut lantaran kompor minyak tanah masih amat dibutuhkan khususnya bagi luar Pulau Jawa. Rozak dan pengusaha kompor minyak tanah di wilayah Watugong mengungkapkan harapannya agar pemerintah setempat turut membantu agar usaha ini tetap terus berkembang. “Kami membutuhkan solusi dari pemerintah pusat terkait perkembangan kompor minyak tanah saat ini. Terlebih, kompor minyak tanah masih tetap dibutuhkan bagi masyarakat kalangan bawah,” tegasnya.

Di lain sisi, pemerintah tengah menyiapkan regulasi terkait konversi LPG ke kompor induksi. Hal ini ditanggapi beragam oleh para pengamat kebijakan publik. Pasalnya, pemerintah perlu lebih dulu mendorong adanya insentif, sehingga dapat menarik dalam program konversi LPG ke kompor induksi. Namun, program konversi kompor ke kompor induksi ternyata telah memperoleh dukungan dari Pertamina yang selama ini menyuplai LPG kepada masyarakat.

“Kami mendukung konversi tersebut. Memang sebaiknya kompor induksi menyasar market yang mampu daya listriknya mendukung ke sana. Kami di LPG tetap menyuplai market yang tidak ter-cover oleh kompor induksi,” tutur VP Downstream Research and Technology Innovation Pertamina, Andianto Hidayat, seperti dilansir Suara Merdeka.

Pos terkait