Kasus Covid-19 dan Inflasi Tinggi, Rupiah Lanjut Melemah

  • Whatsapp
Rupiah melemah
Rupiah melemah pada perdagangan Senin pagi - www.bareksa.com

JAKARTA – Rupiah terbenam semakin dalam di zona merah pada perdagangan Senin (22/11) pagi seiring kekhawatiran investor akan tingginya kasus Covid-19, terutama di Eropa, dan kenaikan di berbagai negara. Menurut data Bloomberg Index pukul 09.02 WIB, mata uang Garuda melemah 32,5 poin atau 0,22% ke level Rp14.264,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir turun 12 poin atau 0,08% di posisi Rp14.232 per dolar AS pada Jumat (19/11) kemarin.

“Pelemahan rupiah kemarin terjadi saat dolar AS karena pelaku pasar mencermati laju bank sentral utama dalam menanggapi dengan menaikkan suku bunga,” ulas Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, dikutip dari Bisnis. “Bank sentral AS sekarang mempertimbangkan kenaikan suku bunga karena inflasi terus meningkat dan pemulihan ekonomi dari Covid-19 berlanjut.”

Bacaan Lainnya

Presiden The Fed Chicago, Charles Evans, misalnya, menjadi salah satu pembuat dovish di Federal Reserve dan mengatakan bahwa dirinya berpikiran terbuka untuk mengubah kebijakan moneter pada 2022 jika terus naik. Meski demikian, Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, mengaku masih kesulitan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga karena terkendala gelombang keempat infeksi Covid-19.

Karena masalah kenaikan infeksi virus corona juga, sejumlah analis memperkirakan bahwa aset berisiko, termasuk rupiah, masih akan bergerak lebih rendah pada perdagangan awal pekan ini. Sejumlah Eropa, seperti Belanda dan Jerman, memang tengah mengalami ledakan kasus virus corona. “Ini memicu adanya risk aversion,” ujar analis DC Futures, Lukman Leong, dilansir dari kontan.

Setali tiga uang, analis Bank Mandiri, Reny Eka Putri, juga menilai pelaku pasar mengkhawatirkan tingginya di Negeri Paman Sam. Pasalnya, tersebut dapat mendorong moneter ketat yang lebih cepat. Ia pun memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak pada kisaran Rp14.180 hingga Rp14.265 per dolar AS pada transaksi hari ini.

Sedikit berbeda, analisis CNBC Indonesia mengatakan bahwa mungkin saja rupiah dapat bergerak lebih tinggi pada perdagangan hari ini seiring kabar yang menyebutkan bahwa posisi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed mungkin akan digantikan. Powell memang masih akan menjadi favorit untuk melanjutkan kepemimpinannya, tetapi Presiden AS, Joe Biden, saat ini sudah mewawancarai kandidat lainnya, Lael Brainard, yang telah menjabat Dewan Gubernur The Fed sejak 2014.

Pos terkait