Presiden Jokowi: Rusia Setuju Buka Jalur Laut untuk Ekspor Gandum Ukraina

  • Whatsapp
Joko Widodo, Presiden Indonesia - setkab.go.id
Joko Widodo, Presiden Indonesia - setkab.go.id

JAKARTA – Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengatakan bahwa Rusia telah setuju membuka jalur laut untuk melakukan ekspor gandum Ukraina di tengah meningkatnya kekhawatiran atas krisis pangan global. Jokowi, sapaan akrabnya, juga mengungkapkan dirinya siap ‘menjembatani’ komunikasi antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan pemimpin Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

“Saya sangat menghargai Presiden Putin, yang telah mengatakan akan memberikan jaminan keamanan untuk pasokan makanan dan pupuk dari Ukraina dan Rusia, ini adalah kabar baik,” kata Presiden Jokowi dilansir dari Nikkei Asia. “Makanan dan pupuk adalah masalah kemanusiaan, dan ratusan juta orang telah terkena dampak gangguan rantai pasokan makanan dan pupuk, terutama di negara berkembang.”

Bacaan Lainnya

Ia melanjutkan, Indonesia siap mendukung upaya PBB untuk mengintegrasikan kembali produk makanan dan pupuk dari Ukraina dan Rusia ke dalam rantai pasokan global, termasuk dengan rencana untuk membuka rute Laut Hitam untuk ekspor biji-bijian Ukraina. PBB dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan kedua negara serta Turki untuk rencana khusus ini.

Sebelumnya, Presiden Putin bagaimanapun telah menekankan Rusia tidak memblokir ekspor makanan, menyebut bahwa sanksi Barat dan bantuan militer ke Ukraina menjadi penyebab penghentian tersebut. “Kami siap untuk sepenuhnya memenuhi permintaan produsen pertanian dari Indonesia dan negara-negara sahabat lainnya untuk nitrogen, fosfat, pupuk kalium, dan bahan baku untuk mereka,” katanya, menurut kantor berita Rusia, Tass.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi mendarat di Bandara Vnukovo di Moskow pada Kamis (30/6) waktu setempat setelah melakukan penerbangan dua jam dari Polandia dengan pesawat jet kepresidenan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Dirinya sedang dalam ‘perjalanan angin puyuh’ yang membawanya ke KTT G7 minggu ini di Jerman dan pertemuan dengan Presiden Zelenskyy. Sebelum tiba di Moskow, ia baru saja kembali ke Polandia pada pagi hari dengan naik kereta api malam dari Kyiv.

Presiden Jokowi, yang juga ketua G20 saat ini, sebelumnya sudah mengatakan bahwa ia berusaha untuk membahas krisis pangan global dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina. Kedua negara adalah pemasok utama gandum ke pasar global, sedangkan Rusia juga merupakan pengekspor pupuk utama. Selama sesi G7, ia memperingatkan gangguan pasokan pupuk dapat menempatkan 2 miliar orang di negara berkembang pada risiko krisis beras, dan mendesak para pemimpin G7 untuk membebaskan makanan dan pupuk dari sanksi.

“Saya telah menyampaikan pesan Presiden Zelenskyy kepada Presiden Putin, dan saya siap untuk ‘menjembatani komunikasi’ antara kedua pemimpin,” lanjut Presiden Jokowi. “Indonesia akan terus bermitra dengan Rusia di sektor investasi, perdagangan, dan pariwisata. Kami tidak memiliki kepentingan apa pun selain melihat segera berakhir dan rantai pasokan makanan, pupuk, dan energi segera diperbaiki.”

Sementara itu, Presiden Putin menyalahkan sanksi Barat karena ‘mengambil makanan dari pasar global’ dan menyebabkan harga pangan melonjak. Ia juga menuding Barat yang menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga menjadi jauh lebih sulit untuk memasok makanan dan pupuk Rusia ke pasar luar negeri. “Rusia siap memenuhi permintaan pupuk dari negara sahabat,” sambungnya.

Ia juga mendukung kepresidenan G20 Indonesia, tetapi tidak mengonfirmasi apakah akan menghadiri KTT G20 di Bali pada bulan November mendatang secara langsung atau dari jarak jauh. Presiden Jokowi sebelumnya telah mengundang pemimpin Rusia ke KTT, meskipun ada ancaman boikot dari beberapa pemimpin Barat. Ia juga mengundang Presiden Zelenskyy, yang mengatakan berencana untuk hadir dari jarak jauh.

Pos terkait