Telan Biaya Triliunan Won, Jet Tempur KF-21 Korea Selatan-Indonesia Lepas Landas

  • Whatsapp
Jet Tempur KF-21 Korea Selatan-Indonesia - koreabizwire.com

Seoul – Pilot Angkatan Udara Korea Selatan Mayor Ahn Jun-hyeon, mengendarai KF-21 Boramae, jet tempur pertama buatan Korea Selatan yang telah dinanti-nanti pada 19 Juli 2022. Telan biaya triliunan won, KF-21 Boramae berhasil lepas landas berkat kolaborasi Amerika Serikat dan Indonesia.

Setelah penerbangan KF-21 Boramae yang sukses, Korea Selatan selangkah lebih dekat untuk menjadi kedelapan di dunia yang mengembangkan jet tempur supersonik. Sejauh ini, hanya AS, Rusia, China, Jepang, Prancis, Swedia, konsorsium Eropa Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol yang berhasil mengembangkan jet tempur supersonik. 

Bacaan Lainnya

Dilansir dari Hankyoreh, Korea Selatan berhasil mengembangkan KF-21 Boramae pada 22 April 2021. KF-21 Boramae terdiri dari lebih dari 30.000 komponen dan ini yang membuat para peneliti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulai penerbangan perdananya. 

Kecepatan terbang maksimum KF-21 Boramae, sebuah jet tempur supersonik, adalah 1,8 kali kecepatan suara (2.200 kilometer per jam). Selama penerbangan perdananya, terbang jauh lebih lambat, dengan kecepatan 400 kilometer per jam.

“Keuntungan dari tempur yang diproduksi di dalam negeri tidak terhitung banyaknya,” kata mantan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. “Kami dapat memproduksinya dan menyebarkannya untuk pertempuran kapanpun kami membutuhkannya. Kita bisa mengganti komponen dan melakukan perbaikan kapan saja.”

Meskipun begitu, mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung sudah memulai program pengembangan tempur Korea pada bulan Agustus 2001, yang berarti butuh 21 tahun untuk mencapai keberhasilan penerbangan perdana KF-21 Boramae. Awalnya, para dan orang-orang di militer skeptis terhadap program pengembangan tempur Korea Selatan dan ini menjadi penghambat. 

Biaya pengembangannya saja sudah 8,8 triliun won (kira-kira USD6,7 miliar). Biaya ini terpisah dari biaya produksi massal jet tempur sehingga dapat dikerahkan ke pasukan lini pertama. Apalagi KF-21 Boramae bukan jenis tempur generasi kelima dengan fitur siluman yang mencegahnya muncul di radar.

KF-21 Boramae lebih dekat ke model generasi 4,5 dengan fitur siluman parsial yang tidak 100% dikembangkan di dalam negeri. Mesin, yang menyumbang sekitar 15% dari total harga pesawat, dibuat oleh perusahaan General Electric di AS. 

Hanya sekitar 65% prototipe KF-21 Boramae diproduksi dengan komponen asli Korea Selatan. Sebenarnya, KF-21 Boramae bukanlah tempur Korea yang dikembangkan secara independen, tetapi sebuah pesawat tempur yang pengembangannya dipelopori oleh Korea. Selain itu, dilansir dari detikoto, Indonesia yang juga berpartisipasi dalam proyek KF-21 Boramae akan mendapatkan jatah 50 jet tempur KF-21 Boramae dan menanggung 20% total biaya proyek.

KF-21 Boramae akan diproyeksikan untuk mengganti tempur Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) F-4E Phantom II dan F-5E/F Tiger II. ROKAF. Korea Selatan telah menargetkan mengoperasikan 40 KF-21 Boramae pada tahun 2028 dan 120 KF-21 Boramae pada tahun 2032.

“Dari adanya KF-21 Boramae, kami dapat melakukan peningkatan dengan menerapkan teknologi avionik tercanggih pada tempur yang ada seperti KF-16 dan F-15K,” kata Jae-in. “Itu juga termasuk radar AESA yang kami peroleh dalam proses pengembangan.”

“KF-21 Boramae adalah bentuk pencapaian untuk mewujudkan pertahanan nasional otonom, ” kata Presiden Korea Selatan Yoon Seok-yeol. “Begitulah pentingnya bagi Korea untuk membangun platform independennya sendiri.”

Pos terkait