Proyek Jalur Kereta China Tertunda, Negara ASEAN Dibayangi Perangkap Utang

  • Whatsapp
Jalur Kereta China - www.lonelyplanet.com
Jalur Kereta China - www.lonelyplanet.com

BANGKOK – Sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road, China telah berencana untuk membangun jalur kereta api yang akan menghubungkan negaranya dengan kawasan Asia Tenggara. Namun, sejak peletakan batu pertama pada di Thailand, saat ini hanya 3,5 km rel yang sudah terpasang. Penundaan tersebut tidak hanya membuat negara seperti Laos akan terjebak dalam apa yang dinamakan ‘perangkap utang’. China juga akan kehilangan nilai strategis jika proyek ambisius itu tidak rampung.

Seperti dilansir dari Nikkei, jaringan kereta api, yang disebut sebagai Kereta Api Kunming-Singapura atau Kereta Api Pan-Asia, seharusnya dimulai di Kunming di China bagian selatan, melewati Asia Tenggara, dan berakhir di Singapura. Apabila selesai, proyek itu akan memberi Negeri Panda arteri untuk memindahkan barang dan orang dari provinsi yang terkurung daratan sampai ke ujung Semenanjung Malaya.

Bacaan Lainnya

Di Thailand, jalur sepanjang 250 km antara ibu kota Bangkok dan Nakhon Ratchasima ditetapkan sebagai segmen pertama. Upacara peletakan batu pertama sudah dilakukan pada Desember silam, yang dihadiri pula oleh Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, dan pejabat senior lainnya. Namun setelah hampir empat tahun, hanya 3,5 km rel yang sudah terpasang.

Bagian pertama seharusnya mulai beroperasi ini. Karena tertunda, sekarang tanggal operasional telah didorong kembali ke 2026, menurut jadwal terbaru oleh Kementerian Transportasi Thailand. Karena penundaan pula, seksi kedua yang menghubungkan Nakhon Ratchasima dengan perbatasan Laos tidak akan beroperasi sampai tahun 2028. Proyek untuk membangun seksi yang menuju selatan dari ibu kota Thailand ke perbatasan Malaysia juga telah ditunda.

Bagian yang menghubungkan Kunming dan ibu kota Laos, Vientiane, satu-satunya ruas yang pembangunannya berjalan sesuai jadwal, direncanakan mulai beroperasi pada 2 Desember mendatang. China memimpin fase itu dan menanggung 70% biaya. Segmen ini selesai dalam waktu sekitar lima tahun. “ tertunda karena insinyur China tidak dapat memasuki negara karena COVID-19, serta penundaan pembebasan lahan,” kata Pichet Kunathamaraks, wakil direktur jenderal Departemen Transportasi Kereta Api Kementerian Perhubungan Thailand.

Di tempat lain, penundaan juga sering terjadi. Rencana pembangunan ruas sepanjang 350 km yang menghubungkan Singapura dan Kuala Lumpur resmi dihentikan pada Januari lalu. Kedua negara secara resmi menyetujui pembangunan pada 2013, tetapi mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, membekukan proyek tersebut pada tahun 2018. Meskipun ada upaya untuk menegosiasikan kembali persyaratan proyek, tidak tercapai kesepakatan sebelum batas waktu Desember 2020.

Penundaan tentu akan memengaruhi profitabilitas berbagai segmen, yang sangat bergantung pada pembiayaan China. Laos memperkirakan bahwa akan memakan waktu 30 untuk membayar kembali utang guna membangun jalur di dalam perbatasannya. Namun, proyeksi itu tergantung pada penerimaan pendapatan yang cukup dari koneksi ke negara-negara sekitarnya. Beberapa telah menyatakan keprihatinan bahwa Laos mungkin tidak dapat membayar kembali pinjaman dan jatuh ke dalam perangkap utang, dengan China akan mengambil alih hak atas bagian penting dari infrastruktur.

China juga terkena imbas, dengan proyek kereta api yang ambisius akan kehilangan nilai strategis sebagai arteri logistik utama jika tetap tidak selesai. Dengan ekonomi China yang menunjukkan tanda-tanda melambat, ada indikasi bahwa proyek Belt and Road tidak akan kebal terhadap pengawasan anggaran. Berapa lama China akan terus memberikan bantuan juga tidak jelas.

Pos terkait