Isu Resesi Tetap Menghantui, Rupiah Berakhir Melemah

  • Whatsapp
Rupiah (Sumber : best-pft.com )
Rupiah (Sumber : best-pft.com )

JAKARTA – Setelah bergulir dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah akhirnya harus menutup perdagangan Rabu (29/6) di area merah saat kekhawatiran mengenai resesi global tetap menghantui keuangan. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 22 poin atau 0,15% ke level Rp14.852,5 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Baht Thailand menjadi yang paling perkasa setelah melonjak 0,30%, diikuti yen Jepang yang menguat 0,05%, dolar Hong Kong yang bertambah 0,02%, dan dolar yang naik tipis 0,01%. Sebaliknya, peso Filipina harus melorot 0,59%, sedangkan won Selatan melemah 0,57%.

Bacaan Lainnya

“Mata uang Garuda pada perdagangan hari ini akan melanjutkan pelemahan akibat isu resesi yang mengemuka di kalangan pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat mereka keluar dari aset berisiko,” ujar analis uang, Ariston Tjendra, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Selain itu, sikap The Fed yang masih akan menerapkan kebijakan agresif hingga inflasi AS terlihat turun masih menjadi pertimbangan pasar untuk masuk ke dolar AS.”

Dari global, indeks mencoba bangkit terhadap sebagian besar mata uang utama pada hari Rabu setelah penurunan imbal hasil AS sempat mengambil sebagian dari kilau mata uang, dengan investor mempertimbangkan risiko resesi dari kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,032 poin atau 0,03% ke level 104,538 pada pukul 11.55 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, imbal hasil Treasury 10-tahun turun lebih dari 1 basis poin di Tokyo, diperdagangkan ke sekitar 3,17% karena ekuitas Asia mengikuti Wall Street yang lebih rendah. Saham AS jatuh setelah penurunan tajam dalam indeks kepercayaan konsumen AS. memicu kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi karena The Fed bergegas untuk mengendalikan inflasi.

“Risiko resesi secara berkala akan melemahkan dolar AS, tetapi naik jangka menengah yang lebih luas kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu,” tulis ahli Westpac dalam catatan klien. “Namun, tidak mungkin mencapai puncaknya sampai kita mendekati akhir dari siklus pengetatan The Fed.”

Pos terkait