Isu Resesi Setia Hantui Pasar, Rupiah Berbalik Melemah pada Senin Sore

  • Whatsapp
Rupiah melemah - www.trenasia.com

JAKARTA – Rupiah harus berbalik ke area merah pada perdagangan Senin (4/7) sore ketika kekhawatiran mengenai potensi resesi ekonomi global serta kenaikan suku bunga The Fed masih memayungi pasar keuangan. Menurut data Bloomberg Index pukul 14.56 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 29 poin atau 0,19% ke level Rp14.971,5 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Yen Jepang menjadi yang paling perkasa setelah menguat 0,16%, diikuti China dan dolar Singapura yang sama-sama naik 0,03%. Sebaliknya, baht Thailand harus terkoreksi 0,25%, sedangkan peso Filipina melemah 0,18% dan rupee India terdepresiasi 0,09%.

Bacaan Lainnya

“Dolar AS mungkin dapat melanjutkan keperkasaannya pada awal pekan ini akibat didorong oleh aksi tunggu pasar terhadap hasil pertemuan The Fed,” papar analis DCFX, Lukman Leong, dikutip dari CNN Indonesia. “Rupiah pekan ini diperkirakan tertekan penguatan dolar AS menjelang risalah pertemuan The Fed pada Rabu (6/7) serta rilis data nonfarm payrolls AS pada Jumat (8/7) mendatang.”

Hampir senada, analis pasar uang, Ariston Tjendra, mengatakan bahwa kebijakan The Fed dan resesi ekonomi menekan tukar rupiah. Yield obligasi AS terlihat menurun drastis, yang berarti banyak pelaku pasar membeli obligasi AS beberapa hari belakangan ini untuk mengamankan nilai aset mereka. “Isu resesi menjadi penyebab beralihnya investasi pelaku pasar keuangan ke obligasi AS,” kata Ariston, dilansir dari Pos.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Senin, tetapi masih berada di dekat posisi tertinggi multi-year, sedangkan euro berada di bawah tekanan ketika investor mencari aset yang lebih aman seiring kekhawatiran tentang ekonomi. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,044 poin atau 0,04% ke level 105,094 pada pukul 10.43 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, aliran safe haven cenderung mendukung greenback, terutama dengan mengorbankan perdagangan dan mata uang yang didorong ekspor, ketika ekonomi dunia lemah. Ini telah membuat dolar AS tetap tinggi, bahkan ketika kekhawatiran telah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Risalah pertemuan kebijakan The Fed Juni pada hari tengah pekan diperkirakan hampir pasti terdengar hawkish mengingat komite memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin. Pasar sebelumnya memperkirakan peluang sekitar 85% untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin bulan ini dan suku bunga pada 3,25-3,5% pada akhir tahun, sebelum pemotongan pada tahun 2023.

Pos terkait