Investasi di Allo Bank, Bukalapak Raih Laba Bersih Rp8,59 Triliun di Semester I 2022

  • Whatsapp
Aplikasi Bukalapak - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Salah satu raksasa e-commerce Indonesia, Bukalapak, dalam laporannya yang dirilis Senin (1/8) kemarin mengatakan bahwa mereka mendapatkan keuntungan bersih sebesar 577 juta dolar AS atau setara Rp8,59 triliun sepanjang semester pertama 2022 yang berakhir Juni. Laba tersebut sebagian besar terbantu keuntungan dari marked-to-market di Allo Bank pada awal tahun 2022.

Seperti dilansir dari Nikkei Asia, keuntungan yang dibukukan Bukalapak sekaligus membantunya membalikkan kerugian sebesar Rp767 miliar sepanjang periode yang sama tahun 2021 lalu. Dalam ke Bursa Indonesia (BEI), perusahaan juga melaporkan pendapatan untuk periode yang sama melonjak 96 persen year-on-year menjadi Rp1,69 triliun.

Bacaan Lainnya

Laba yang dihasilkan dalam setengah tahun pertama 2022 dibantu oleh keuntungan dari investasinya di Allo Bank, pemberi pinjaman lokal kecil. Walau tidak mengungkapkan besaran keuntungannya, meningkatkan pendapatan adalah bisnis Mitra Bukalapak, yang membantu mendigitalkan pengecer kecil atau warung di Indonesia. Mitra memungkinkan bisnis, yang menyimpan berbagai kebutuhan sehari-hari, untuk melakukan pengadaan produk satu di aplikasi dan menjual barang digital, termasuk dan data.

Pada kuartal kedua dari April hingga akhir Juni 2022 saja, pendapatan dari segmen tersebut naik 242 persen year-on-year. Bukalapak pun mengakui bahwa Mitra Bukalapak adalah penggerak utama perusahaan. “Bisnis ini menyumbang 55 persen dari total pendapatan untuk kuartal kedua 2022, naik dari 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Bukalapak.

Meski demikian, perusahaan tetap memperkirakan kerugian sebelum pajak sebesar Rp1,5 triliun untuk tahun 2022, yang akan menandai pelebaran dari tahun sebelumnya, menurut bahan presentasi yang disampaikan ke BEI pada bulan Juni kemarin, dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp1,41 triliun. Angka-angka itu diproyeksikan berdasarkan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) yang disesuaikan.

“Memang, ini secara luas dapat dilihat sebagai pesan ketika kerugian (perusahaan) bisa melebar,” ujar Teddy Oetomo selaku presiden perusahaan Bukalapak tentang panduan itu. “Ini bukanlah target perusahaan dan panduan EBITDA yang disesuaikan diharapkan relatif datar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.”

Didirikan pada tahun 2010, Bukalapak dimulai sebagai platform e-commerce, tetapi sejak itu terus bercabang ke layanan lain seperti digitalisasi warung. Perusahaan ini merupakan bagian dari gelombang unicorn teknologi lokal, perusahaan rintisan senilai lebih dari 1 miliar dolar AS, yang muncul di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Lainnya termasuk operator layanan ride-hailing Gojek dan platform e-commerce Tokopedia, yang digabungkan menjadi superapp GoTo.

Sayangnya, Bukalapak terus berkinerja buruk sejak listing pada Agustus tahun 2021 lalu. Pada hari Senin kemarin, saham perusahaan berdiri di Rp292, turun 72 persen dari harga penawaran umum perdana mereka. Beberapa perusahaan teknologi lain di juga mengalami penurunan saham dari harga IPO (Initial Public Offering) mereka.

Pos terkait