Inflasi Juni Tembus Rekor Tertinggi, Rupiah Berakhir Melemah

  • Whatsapp
Rupiah - www.rctiplus.com
Rupiah - www.rctiplus.com

JAKARTA – Rupiah harus menerima nasib terkapar di area merah pada perdagangan Jumat (1/7) sore setelah data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia pada bulan Juni menembus rekor tertinggi sejak lima tahun silam. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup 39,5 poin atau 0,26% ke level Rp14.942,5 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Juni 2022 mengalami sebesar 4,35% secara tahunan atau menjadi yang tertinggi sejak Juni 2017. Sementara itu, secara bulanan, inflasi mencapai angka 0,61%. Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam ras menjadi penyumbang terbesar inflasi pada bulan kemarin.

Bacaan Lainnya

“Kalau dilihat, penyumbang berasa dari cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras,” papar Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam keterangan resminya. “Berdasarkan komponen, penyumbang terbesar inflasi berasal dari harga bergejolak secara month-to-month dengan andil 0,44%, sedangkan komponen inti memberikan andil sebesar 0,12%, termasuk upah ART, sabun, dan kontrak rumah.”

Dari 90 kota IHK, terdapat 85 kota yang mengalami pada Juni 2022 dan lima kota mengalami deflasi. Dari 87 kota yang mengalami inflasi, inflasi tertinggi terjadi di Gunung Sitoli dengan inflasi 2,72%, yang disebabkan oleh inflasi cabai merah dengan andil sebesar 1,42%, cabai rawit dengan andil 0,28%, dan bawang merah dengan andil 0,27%.

Sebelumnya, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, sempat memproyeksikan inflasi Indonesia pada bulan Juni 2022 diperkirakan berkisar 0,44% secara bulanan atau 4,17% secara tahunan, dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,40% month-to-month atau setara dengan 3,55% year-on-year. “Peningkatan inflasi disebabkan kenaikan inflasi dari komponen inti dengan inflasi bergejolak masih tinggi,” katanya, dikutip dari Kumparan.

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak variatif terhadap greenback. Won menjadi yang paling perkasa setelah melonjak 0,52%, diikuti peso Filipina yang bertambah 0,07%, serta yuan China dan ringgit Malaysia yang sama-sama naik 0,02%. Sebaliknya, baht Thailand harus terdepresiasi 0,35%, sedangkan yen Jepang 0,1%.

Dari pasar global, dolar AS sedikit berubah terhadap mata uang utama pada hari Jumat, tetapi berada di jalur untuk minggu terbaiknya dalam empat pekan ketika investor mempertimbangkan dorongan dari kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat dan risiko resesi AS. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,253 poin atau 0,24% ke level 104,938 pada pukul 11.12 WIB.

Pos terkait