Imbas Inflasi, Tagihan Rumah Tangga Naik Paksa Warga Jepang Berhemat

  • Whatsapp
Warga Jepang Berhemat - indianexpress.com
Warga Jepang Berhemat - indianexpress.com

TOKYO – Masyarakat Jepang yang sudah lama terbiasa dengan pemotongan harga untuk meningkatkan konsumsi, baru-baru ini dikejutkan dengan lonjakan tagihan listrik, gas, dan air. Imbasnya, mereka pun beralih menanam sayuran, menghindari minuman keras, hingga rela berjalan kaki untuk bepergian guna memangkas tingginya tagihan kebutuhan tangga.

Seperti dilansir dari South China Morning Post, terkejut dengan kenaikan harga bakar, makanan, dan berbagai barang tangga lainnya, Kantaro Suzuki, seorang penulis lepas dari Tokyo, memutuskan untuk ‘mengalahkan’ inflasi dengan berjalan kaki. “Saya tidak mampu membeli lemari pakaian yang sama sekali baru, terutama jika harga-harga itu mulai naik juga, sehingga saya mulai berjalan dan jogging,” katanya.

Bacaan Lainnya

Setelah lebih dari dua dekade mengalami deflasi, dengan pelanggan yang terbiasa dengan bisnis harga murah untuk meningkatkan konsumsi, konsumen Jepang dikejutkan oleh tagihan rumah tangga yang lebih besar. Harga naik untuk pertama kalinya dalam 18 bulan di bulan 2021, dan perhitungan Bloomberg menemukan bahwa inflasi inti sekitar 1,4%. Meskipun hal ini disebabkan biaya komoditas yang meningkat tajam, bisnis juga meminta konsumen untuk membayar lebih.

Dilaporkan Bloomberg, perusahaan pabrik tepung, Nisshin Seifun, telah mengumumkan kenaikan harga dan menyediakan halaman web untuk menjelaskan keputusan tersebut, lengkap dengan grafik nilai tukar dolar AS terhadap yen dan kenaikan biaya pengiriman. Sementara itu, raksasa manufaktur makanan, Kikkoman, berujar mereka akan menaikkan harga kecap, utama dalam masakan Jepang, hingga 10% karena kenaikan biaya bahan baku dan biaya logistik.

Bank of Japan melaporkan bahwa harga grosir melonjak 8% pada Oktober 2021 dari sebelumnya, atau peningkatan paling tajam dalam lebih dari empat dekade, disebabkan harga minyak mentah yang lebih tinggi dan yen yang lemah, yang mendorong naiknya biaya impor. Harga produk minyak bumi dan batu bara melonjak lebih dari 44%, sedangkan biaya konsumen di SPBU berada pada titik tertinggi dalam tujuh tahun. Demikian pula, harga kayu naik 57%, sementara harga baja dan naik hampir 22%.

Biaya kebutuhan rumah tangga juga mengalami kenaikan tagihan, dengan tarif listrik, gas, dan air naik hampir 11%. Pemerintah bermaksud untuk memperkenalkan langkah-langkah untuk mengurangi tekanan pada anggaran rumah tangga dalam paket stimulus ekonomi senilai 55,7 triliun yen (488 miliar dolar AS) yang akan diumumkan pada akhir pekan ini waktu setempat.

Meski demikian, sejumlah ekonom mengatakan bahwa rata-rata orang Jepang tidak perlu terlalu khawatir karena alotnya rantai pasokan kemungkinan teratasi dan negara-negara yang memproduksi bakar diperkirakan meningkatkan produksi selama beberapa bulan mendatang. Martin Schulz, kepala ekonom kebijakan untuk Unit Intelijen Pasar Global Fujitsu, menjelaskan, Jepang telah menghindari kenaikan harga yang lebih tajam, salah satu disebabkan oleh kontrak jangka panjang di sektor energi, yang biasanya lebih disukai oleh importir Jepang.

“Jika inflasi tidak berubah menjadi situasi jangka pendek dan berlangsung lebih dari dua tahun, maka kita akan secara bertahap melihat lebih banyak kenaikan harga,” kata Schulz. “Namun, saya melihat bahwa masalah rantai pasokan akan diselesaikan depan, yang akan menurunkan harga. Sementara harga gas dan minyak telah naik, saya berharap produsen meningkatkan produksi pada musim dingin ini.”

Kekhawatiran yang sedikit lebih besar, menurut Schulz, berkisar pada inflasi secara keseluruhan. Pasalnya, perusahaan Jepang mengimpor dengan biaya yang lebih tinggi, cenderung sangat enggan untuk membebankan biaya tersebut ke konsumen karena pola pikir deflasi di antara orang-orang di negara tersebut.

“Meskipun kita telah melihat pengeluaran besar- di Eropa dan AS karena pandemi telah mereda, masih ada keengganan di antara konsumen di Jepang untuk berbelanja. Seolah-olah mereka masih dalam pola pikir keadaan darurat,” sambungnya. “Namun, jika biaya yang lebih tinggi tidak diteruskan, maka perusahaan dapat mengambil untung besar. Itu bisa membuat mereka lebih berhati-hati dalam berinvestasi dan membuat pemulihan ekonomi secara keseluruhan lebih lambat dari yang diantisipasi pemerintah.”

Pos terkait