Dibayangi Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - market.bisnis.com
Rupiah - market.bisnis.com

JAKARTA – Rupiah sanggup mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Jumat (25/3) sore meskipun dibayangi kenaikan imbal hasil AS serta sentimen pengetatan moneter dari bank sentral global. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 6 poin atau 0,04% ke level Rp14.345,5 per dolar AS.

Mayoritas mata uang di kawasan Benua Asia juga terpantau mampu mengungguli greenback. Yen Jepang menjadi yang paling perkasa setelah melonjak 0,34%, diikuti baht Thailand yang menguat 0,20%, peso Filipina yang bertambah 0,16%, dan yuan China yang 0,07%. Sebaliknya, dolar Hong Kong harus tipis 0,01%, sedangkan rupee India turun 0,09%.

Bacaan Lainnya

“Pergerakan rupiah pada akhir pekan ini masih cenderung dipengaruhi sentimen global, terutama berlanjutnya kenaikan imbal hasil AS, yang kemarin terus mencatatkan kenaikan dan mencapai level tertinggi sejak Mei 2019,” ulas analis pasar uang Bank Mandiri, Rully Arya, dikutip dari Antara. “Dari dalam negeri, kondisinya masih cukup baik, tetapi perlu diwaspadai kenaikan inflasi bulan ini dan kemudian juga di bulan April mendatang karena memasuki bulan puasa.”

Yen Jepang, di sisi lain, mampu membalikkan posisi setelah sempat menuju minggu terburuk dalam dua tahun, terpukul kenaikan biaya impor dan suku bunga yang rendah. Mata uang Negeri Sakura tercatat telah 2,6% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Penurunan dipicu pernyataan hawkish Gubernur The Fed, Jerome Powell. Sebaliknya, Bank of Japan masih terjebak dalam nada dovish.

“Satu hal yang harus diperhatikan dalam dolar AS versus yen adalah penolakan dari pembuat kebijakan di Jepang,” kata pedagang dan presiden di perusahaan analitik Spectra Markets, Brent Donnelly, dilansir dari Reuters. “Saya tidak yakin kita cukup sampai di sana, tetapi level 123,50/125,00 hampir pasti akan menarik perhatian dan menghasilkan berita utama baik dari PM Jepang, (Fumio) Kishida, atau Menteri Keuangan Jepang, (Shun’ichi) Suzuki.”

Di tempat lain, kenaikan komoditas telah mendukung dolar Selandia Baru, meskipun telah mengalami resistensi yang di dekat 0,70 dan terakhir di level 0,6964 terhadap dolar AS. Pound sterling, sementara itu, melayang di posisi 1,3190 terhadap greenback karena para pedagang mempertimbangkan pandangan dovish yang hati-hati dari Bank of England terhadap data Februari yang menunjukkan inflasi lebih tinggi dari perkiraan.

Pos terkait