Lepas dari Kerugian, Grab Singapura Capai BEP Lebih Cepat

  • Whatsapp
Super App Grab yang berbasis di Singapura - (mothership.sg)
Super App Grab yang berbasis di Singapura - (mothership.sg)

Singapura –  Super App Grab yang berbasis di Singapura mengatakan pada hari Rabu (16/11) bahwa telah capai titik impas (Break-even), karena raksasa teknologi Asia Tenggara itu bergegas mempersempit kerugian bertahun-tahun dalam menghadapi pengawasan investor yang lebih kuat.

yang disesuaikan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization) dalam bisnis pengiriman berjumlah USD9 juta (Rp1,4 miliar) untuk kuartal Juli-September, berbalik positif dari kerugian USD22 juta (Rp3,4 miliar) pada periode tahun 2021.

Bacaan Lainnya

Perusahaan yang terdaftar di Nasdaq ini awalnya memperkirakan segmen tersebut akan mencapai titik impas pada kuartal kedua tahun 2023. Di tingkat grup, perusahaan mempertahankan rencananya untuk mencapai titik impas pada paruh kedua tahun 2024 berdasarkan EBITDA yang disesuaikan.

“Hasil terbaru menunjukkan kemampuan kami untuk mendorong pertumbuhan dan profitabilitas secara bersamaan,” kata CEO Grab Singapura Anthony Tan dalam Nikkei Asia. “Grab telah memperlambat pembayaran insentifnya kepada pengguna dan lebih berfokus pada pelanggan setia dengan transaksi lebih tinggi.”

Pengumuman itu muncul saat Grab pada hari Rabu (16/11) melaporkan kerugian USD 342 juta (Rp5,3 triliun) untuk kuartal Juli-September, menyempit 65% dari kerugian USD 988 juta (Rp15,4 triliun) untuk periode yang sama tahun 2021. “Kami melihat pertumbuhan yang solid meskipun permintaan pengiriman makanan normal,” jelas Tan.

Pendapatan grup mencapai rekor USD382 juta (Rp5,9 triliun), naik 143% pada tahun 2021. Di atas segmen pengiriman yang kuat, lini teratas bisnis transportasi naik lebih dari dua kali lipat karena permintaan kembali berkat pembukaan kembali ekonomi dari pembatasan pandemi.

“Hasil kuartalan terbaru lebih baik daripada konsensus pasar,” menurut QUICK FactSet. “Diperkirakan, kerugian bersih totalnya sebesar USD376 juta (Rp5,8 triliun) dan pendapatan sebesar USD341 juta (Rp5,3 triliun). Menyusul hasil pendapatan tersebut, harga saham Grab melonjak hampir 12% pada satu titik di awal perdagangan Rabu (16/11) di New York.”

Dengan perubahan arus, Grab telah mengurangi pembayaran insentif, lebih berfokus pada pengguna setia dengan menjual silang layanannya di seluruh platform. Perusahaan juga menghentikan layanan cloud kitchen di beberapa pasar dan menutup gudang bahan makanan di Singapura, Vietnam, dan Filipina.

Grab merevisi pedoman pendapatan 2022 naik menjadi antara USD1,32 miliar (Rp20,6 kuadriliun) hingga USD1,35 miliar (Rp21 kuadriliun) dari kisaran sebelumnya, USD1,25 miliar (Rp19 kuadriliun) hingga USD1,30 miliar (Rp20,3 kuadriliun). Namun, perusahaan belum menghasilkan keuntungan pada tingkat grup, terhambat biaya yang terkait dengan bisnis perbankan digital barunya. Grab memasuki sektor bank virtual di Singapura pada September dengan rencana masuk ke Malaysia dan Indonesia tahun 2023.

Pada kuartal terakhir, EBITDA yang disesuaikan untuk layanan keuangan mengalami kerugian USD104 juta (Rp162 miliar), dibandingkan dengan kerugian USD76 juta (Rp1,1 miliar) dari tahun 2021. Investasi perusahaan dalam pinjaman online diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2023 dan membutuhkan waktu tiga tahun lagi untuk mencapai titik impas.

Pos terkait