Gelombang Keempat Covid-19 Serang Eropa, Rupiah Berakhir Melemah

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Senin (22/11) sore - voi.id

JAKARTA – Rupiah harus puas tertahan di teritori merah pada perdagangan Senin (22/11) sore ketika aset berisiko cenderung dihindari seiring gelombang keempat infeksi Covid-19 yang tengah melanda kawasan Eropa. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 17 poin atau 0,12% ke level Rp14.249 per AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia juga tidak berdaya melawan greenback. Peso Filipina menjadi yang paling sengsara setelah anjlok 0,56%, diikuti won Korea Selatan yang terkoreksi 0,18%, yen yang terdepresiasi 0,16%, ringgit Malaysia dan baht yang sama-sama turun 0,1%, dan yang minus tipis 0,03%.

Bacaan Lainnya

“Nilai tukar rupiah melemah di hadapan AS pada hari ini karena Federal Reserve akan mempercepat tapering mereka,” tutur pasar uang, Ariston Tjendra, dilansir dari CNN Indonesia. “Mempercepat proses tapering berarti juga akan mempercepat kenaikan suku bunga AS, sehingga mendukung penguatan greenback.’

 Dari pasar global, indeks AS diperdagangkan mendekati posisi tertinggi 16 bulan terhadap euro dan naik melawan sejumlah mata uang utama pada awal pekan, di tengah meningkatnya kecemasan atas dampak lonjakan Covid-19 di Eropa. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,089 poin atau 0,09% ke level 96,12 pada pukul 11.26 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, AS mendekati level terkuat sejak awal Oktober 2021 terhadap dolar Australia dan dolar Kanada, dengan mata uang terkait komoditas juga tertekan oleh penurunan minyak mentah. Mata uang itu mendapat dukungan tambahan dari komentar bullish oleh pejabat Federal Reserve, Richard Clarida dan Christopher Waller, yang menyarankan langkah yang lebih cepat untuk pengurangan stimulus di tengah pemulihan yang cepat dan kenaikan inflasi.

Di belahan dunia yang lain, Eropa kembali menjadi pusat pandemi Covid-19, menyumbang setengah dari kasus dan kematian global. Gelombang infeksi keempat telah menjerumuskan Jerman, ekonomi terbesar Eropa, ke dalam keadaan darurat nasional, demikian keterangan Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, sembari memperingatkan bahwa vaksinasi saja tidak akan mengurangi jumlah kasus.

“Nilai tukar euro terhadap greenback telah jatuh bebas dan kemungkinan akan mendapatkan bagian terbesar dari perhatian klien di tengah pembatasan dan ketegangan yang berkembang di seluruh Eropa,” kata kepala penelitian di broker Pepperstone di Melbourne, Chris Weston. “Untuk momentum, pengikut tren dan pedagang taktis, euro jangka pendek tetap menarik di sini.”

Pos terkait