Fed Diyakini Segera Longgarkan Kebijakan, Rupiah Justru Ditutup Melemah

Rupiah - investor.id
Rupiah - investor.id

JAKARTA – Setelah bergerak fluktuatif, rupiah ternyata harus mengakhiri perdagangan Jumat (25/11) sore di area merah ketika investor semakin yakin bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan mereka, yang mengirim greenback jatuh. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 14.53 WIB, mata uang Garuda melemah 7,5 poin atau 0,05% ke level Rp15.672,5 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia terpantau tidak berdaya melawan greenback. Yuan China menjadi yang paling terpuruk setelah terkoreksi 0,13%, diikuti yen Jepang yang melemah 0,12%, won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,11%, dolar Hong Kong yang berkurang 0,05%, dan peso Filipina yang turun tipis 0,01%. Sebaliknya, baht Thailand masih mampu 0,20%, sedangkan dolar Singapura naik 0,12%.

Bacaan Lainnya

“Rupiah bakal pada perdagangan pagi ini dikarenakan kebijakan The Fed yang tak seketat bulan-bulan sebelumnya dalam menaikkan suku bunga,” ujar analis DCFX Futures, Lukman Leong, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Rupiah diperkirakan naik dengan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali turun usai risalah pertemuan FOMC yang dovish.”

Dari pasar global, dolar AS berdiri mendekati level terendah tiga bulan dan berada di jalur untuk kerugian mingguan pada hari Jumat, karena prospek Federal Reserve memperlambat pengetatan kebijakan moneter segera setelah rapat bulan Desember mendominasi pikiran investor. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,217 poin atau 0,20% ke level 105,859 pada pukul 10.32 WIB.

Risalah dari pertemuan The Fed bulan November 2022 yang dirilis tengah pekan ini menunjukkan ‘mayoritas substansial’ pembuat kebijakan setuju bahwa  memperlambat laju kenaikan suku bunga mungkin adalah tindakan yang tepat, sebuah pernyataan yang mengirim greenback jatuh. Sebelumnya, kenaikan suku bunga agresif The Fed telah menjadi pendorong lonjakan dolar AS sebesar 10% pada tahun ini.

Faktor lain yang juga sedikit membantu sentimen aset adalah survei yang menunjukkan bahwa moral bisnis di Jerman naik lebih jauh dari yang diharapkan pada bulan November 2022. Meski pembuat kebijakan Eropa (ECB) khawatir bahwa inflasi mungkin akan mengakar di zona Eropa, pasar sekarang mengharapkan kenaikan suku bunga 50 basis poin yang lebih sederhana pada pertemuan Desember.

“Kita masih memiliki sentimen positif untuk hari ketiga berturut-turut dan membuat dolar AS tetap lemah secara keseluruhan,” kata kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill, dilansir dari Reuters. “Ada laporan inflasi zona Eropa pada minggu depan, jadi saya pikir itu akan menjadi ujian besar dari harga pasar. Jika ada kejutan naik lagi, maka saya pikir itu akan membawa kenaikan 75 basis poin kembali ke agenda.”

Pos terkait