Drone-nya Dipakai Rusia, AS Masukkan DJI Technology Asal China dalam Daftar Hitam

Ilustrasi Drone DJI Technology -www.washingtonpost.com

WASHINGTON – Departemen Pertahanan AS pada (5/10) kemarin menambahkan DJI Technology Co. yang berbasis di Shenzhen, pembuat drone konsumen terbesar di dunia, ke daftar perusahaan China yang dianggap terkait dengan militer Beijing. Drone buatan DJI ditengarai telah digunakan oleh Rusia dalam konflik melawan Ukraina.

Bacaan Lainnya

“Pentagon bertekad untuk menyoroti dan melawan strategi fusi militer-sipil, yang mendukung tujuan modernisasi People’s Liberation Army (PLA) dengan memastikan aksesnya ke teknologi dan keahlian canggih diperoleh dan dikembangkan oleh perusahaan, universitas, dan program penelitian yang tampaknya merupakan entitas sipil,” demikian bunyi pengumuman departemen, dilansir dari South China Morning Post.

Pengumuman pada hari Rabu mengikuti serangkaian pembatasan pemerintah AS pada transaksi dengan perusahaan China, berdasarkan kekhawatiran bahwa ikatan bisnis ini pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan dan modernisasi PLA. Langkah-langkah ini sudah dimulai pada 2019 lalu, dengan mandat yang lebih kuat yang diberikan kepada Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) untuk menolak akuisisi asing yang berpotensi merusak keamanan nasional.

AS menambahkan tujuh perusahaan kedirgantaraan dan chip China dalam ‘daftar hitam’ mereka. DJI berada di bawah pengawasan yang lebih ketat menjelang dimulainya perang Rusia di Ukraina karena tuduhan bahwa tentara Rusia telah mengerahkan drone perusahaan itu dalam konflik tersebut. Kekhawatiran itu meningkat beberapa minggu yang lalu setelah posting oleh Kedutaan Rusia di Beijing yang memuji kegunaan DJI dalam perang modern.

Mencakup selusin perusahaan teknologi lainnya, ‘daftar hitam’ tersebut membuka jalan bagi Departemen Perdagangan Negeri Paman Sam untuk membatasi transaksi bisnis AS dengan perusahaan, termasuk investasi, yang tercatat. Daftar itu diwajibkan oleh National Defence Authorization Act (NDAA) pada tahun lalu, yang memandu pendanaan untuk militer AS.

Daftar awal Pentagon termasuk Huawei Technologies, yang sudah ada dalam daftar perusahaan Departemen Perdagangan AS yang dilarang memperoleh teknologi AS, juga dikenal sebagai Daftar Entitas, dan lusinan perusahaan lainnya. Tahap kedua mencakup BGI Genomics, perusahaan genomik terbesar di China, dan raksasa proyek infrastruktur, China State Construction Group.

Sementara itu, Daftar Entitas Departemen Perdagangan AS mencakup hampir 300 perusahaan China, dengan tambahan terbaru, termasuk tujuh perusahaan yang berafiliasi dengan negara di sektor kedirgantaraan dan chip, yang terdaftar pada bulan . Awal tahun ini, departemen tersebut juga mengumumkan pembatasan transaksi dengan 33 organisasi China yang kepemilikannya dianggap ‘ tidak terverifikasi’, dan karenanya dianggap memiliki kemungkinan koneksi militer.

Entri ‘daftar tidak terverifikasi’ yang paling baru sebagian besar adalah produsen teknologi tinggi, termasuk yang memproduksi komponen laser dan obat-obatan, serta penelitian pemerintah. Perusahaan AS yang ingin mengekspor ke entitas dalam daftar itu harus mendapatkan lisensi terlebih dahulu untuk melakukannya.

Pos terkait